Hammâd bin Salamah
Ia seorang imam panutan. Namanya Hammâd bin Salamah bin Dinâr. Syekhnya penduduk kota Basrah di bidang hadis, fiqih, dan sastra Arab. Pada zamannya, ia panutan yang dimuliakan masyarakat (sayyid). Seorang ahli ilmu, ahli amal dan zahid. Orang-orang memerlukannya, tapi ia tak perlu siapa pun karena ia cukup dengan Tuhannya. Mereka berkata, “Ia termasuk wali abdal. Ia termasuk orang yang ketat dan semangat dalam beristiqamah melakukan kebaikan. Seandainya dikatakan padanya, ‘Engkau akan mati besok,’ tentu ia tak mampu lagi menambah amalnya (saking sudah terbiasa beramal banyak).” Ia wafat tahun 167 H.
Hari itu, ia duduk di rumahnya, ditemani seorang sahabat. Di rumahnya tidak ada sesuatu selain tikar tempat duduknya, mushaf al-Quran yang biasa ia baca, kantong kulit berisi kitab-kitab, dan bejana untuk wudhu.
Seseorang mengetuk pintu. Hammâd berkata kepada anaknya, “Anakku, keluarlah, lihatlah siapa orang itu.”
Setelah kembali, anak perempuannya berkata, “Dia utusan Muhammad bin Sulaiman”—Gubernur Basrah yang sangat berpengaruh di masa awal Dinasti Abbasiyah.
“Katakan padanya, masuklah sendirian,” tutur Hammâd.
Utusan itu pun masuk, lalu menyerahkan surat kepada Hammâd.
Isinya:
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Dari Muhammad bin Sulaiman untuk Hammâd bin Salamah. Selanjutnya, semoga Allah memberimu pagi sebagaimana Allah telah memberi pagi untuk para wali dan orang yang taat kepada-Nya. Kami ada masalah, datanglah pada kami agar kami dapat bertanya kepada engkau tentangnya.
Wassalam.
“Anakku, ambilkan tinta,” perintah Hammâd.
Lalu Hammad berkata kepada sahabatnya, balikkan surat itu dan tulislah:
“Selanjutnya, dan engkau juga. Semoga Allah memberi pagi sebagaimana Allah telah memberikannya kepada para wali dan orang yang taat kepada-Nya. Kami mendapati para ulama tidak pernah mendatangi siapa pun. Bila engkau punya masalah, datanglah pada kami dan bertanyalah tentang masalah yang terjadi padamu. Bila engkau mau mendatangiku, datanglah sendiri. Jangan kau datang dengan pasukan berkuda dan pasukan jalan kakimu.”
Waktu berjalan. Hingga tiba seseorang mengetuk pintu. Hammâd berkata, “Anakku, keluarlah, lihat siapa yang datang.”
Setelah kembali, anaknya berkata, “Muhammad bin Sulaiman.”
“Katakan padanya, masuklah sendirian.”
Muhammad bin Sulaiman yang sebutan namanya saja menggentarkan banyak orang mengucapkan salam dan duduk di depan Hammâd. Ia berkata dengan suara pelan,
“Bila aku memandangmu, mengapa hatiku takut?”
Hammâd berkata, “Aku mendengar Tsabit al-Bannani berkata, ‘Aku mendengar Anas bin Mâlik berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya seorang ulama bila ia maksudkan ilmunya untuk ridha Allah (wajhullah), maka segala sesuatu akan takut padanya. Tapi bila ilmunya ia maksudkan untuk menumpuk harta, maka ia akan takut kepada segala sesuatu.’”
Muhammad bin Sulaiman lalu mengeluarkan kantong dari sakunya dan berkata, “Ini 40 ribu dirham. Terimalah untuk membantu kewajiban nafkahmu.”
“Kembalikanlah kepada orang-orang yang telah engkau zalimi (rebut) haknya untuk mendapatkan uang ini.”
“Demi Allah, aku memberimu hanya dengan uang warisanku.”
“Saya tidak perlu uang. Tolong hindarkan uang ini dariku, semoga Allah menghindarkan beban-beban darimu.”
“Kalau begitu, engkau bagikan kepada orang-orang yang kausukai.”
“Tolong hindarkan uang ini dariku, semoga Allah menghindarkan beban-beban darimu.”
Gubernur pun pergi, ia keluar melalui jalan yang sama ketika ia masuk.
Sumber: Shifat al-Shafwah
Hari itu, ia duduk di rumahnya, ditemani seorang sahabat. Di rumahnya tidak ada sesuatu selain tikar tempat duduknya, mushaf al-Quran yang biasa ia baca, kantong kulit berisi kitab-kitab, dan bejana untuk wudhu.
Seseorang mengetuk pintu. Hammâd berkata kepada anaknya, “Anakku, keluarlah, lihatlah siapa orang itu.”
Setelah kembali, anak perempuannya berkata, “Dia utusan Muhammad bin Sulaiman”—Gubernur Basrah yang sangat berpengaruh di masa awal Dinasti Abbasiyah.
“Katakan padanya, masuklah sendirian,” tutur Hammâd.
Utusan itu pun masuk, lalu menyerahkan surat kepada Hammâd.
Isinya:
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Dari Muhammad bin Sulaiman untuk Hammâd bin Salamah. Selanjutnya, semoga Allah memberimu pagi sebagaimana Allah telah memberi pagi untuk para wali dan orang yang taat kepada-Nya. Kami ada masalah, datanglah pada kami agar kami dapat bertanya kepada engkau tentangnya.
Wassalam.
“Anakku, ambilkan tinta,” perintah Hammâd.
Lalu Hammad berkata kepada sahabatnya, balikkan surat itu dan tulislah:
“Selanjutnya, dan engkau juga. Semoga Allah memberi pagi sebagaimana Allah telah memberikannya kepada para wali dan orang yang taat kepada-Nya. Kami mendapati para ulama tidak pernah mendatangi siapa pun. Bila engkau punya masalah, datanglah pada kami dan bertanyalah tentang masalah yang terjadi padamu. Bila engkau mau mendatangiku, datanglah sendiri. Jangan kau datang dengan pasukan berkuda dan pasukan jalan kakimu.”
Waktu berjalan. Hingga tiba seseorang mengetuk pintu. Hammâd berkata, “Anakku, keluarlah, lihat siapa yang datang.”
Setelah kembali, anaknya berkata, “Muhammad bin Sulaiman.”
“Katakan padanya, masuklah sendirian.”
Muhammad bin Sulaiman yang sebutan namanya saja menggentarkan banyak orang mengucapkan salam dan duduk di depan Hammâd. Ia berkata dengan suara pelan,
“Bila aku memandangmu, mengapa hatiku takut?”
Hammâd berkata, “Aku mendengar Tsabit al-Bannani berkata, ‘Aku mendengar Anas bin Mâlik berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya seorang ulama bila ia maksudkan ilmunya untuk ridha Allah (wajhullah), maka segala sesuatu akan takut padanya. Tapi bila ilmunya ia maksudkan untuk menumpuk harta, maka ia akan takut kepada segala sesuatu.’”
Muhammad bin Sulaiman lalu mengeluarkan kantong dari sakunya dan berkata, “Ini 40 ribu dirham. Terimalah untuk membantu kewajiban nafkahmu.”
“Kembalikanlah kepada orang-orang yang telah engkau zalimi (rebut) haknya untuk mendapatkan uang ini.”
“Demi Allah, aku memberimu hanya dengan uang warisanku.”
“Saya tidak perlu uang. Tolong hindarkan uang ini dariku, semoga Allah menghindarkan beban-beban darimu.”
“Kalau begitu, engkau bagikan kepada orang-orang yang kausukai.”
“Tolong hindarkan uang ini dariku, semoga Allah menghindarkan beban-beban darimu.”
Gubernur pun pergi, ia keluar melalui jalan yang sama ketika ia masuk.
Sumber: Shifat al-Shafwah
loading...