30 Tahun Dzun-Nun Mengajak Manusia Bertobat
SELAMA TIGA PULUH TAHUN Dzun-Nun mengajak manusia untuk bertobat, tetapi hanya seorang yang telah menghampiri Allah dengan segala kepatuhan. Berikut ini Dzun-Nun berkisah.
Suatu hari seorang pangeran bersama rombongannya melewatiku di dekat pintu masjid. Aku mengucapkan kata-kata ini.
“Tak ada yang lebih bodoh daripada si lemah yang bergulat melawan si kuat.”
“Apa maksudnya?” tanya sang pangeran.
“Manusia itu lemah, tetapi ia melawan Tuhan yang Mahakuat,” kataku.
Sang pangeran muda itu pucat pasi. Ia pun berdiri dan pergi. Keesokan harinya ia kembali.
“Manakah jalan menuju Allah?” tanyanya.
“Ada jalan yang kecil dan ada jalan yang lebih besar,” jawabku. “Yang mana yang engkau hendaki? Jika engkau menghendaki jalan yang kecil, tinggalkan dunia dan nafsu daging dan jangan berbuat dosa. Jika engkau menginginkan jalan yang besar, tinggalkan segalanya kecuali Allah, dan kosongkan hatimu dari segala hal.”
“Demi Allah, aku hanya akan memilih jalan yang besar,” jawab sang pangeran.
Keesokan harinya, ia mengenakan jubah wol, dan memasuki jalan kezuhudan. Kelak ia akan menjadi orang suci.
***
Kisah berikut ini dituturkan oleh Abu Jafar si Mata Satu.
Aku sedang bersama Dzun-Nun ketika sekelompok pengikutnya hadir. Mereka menyampaikan cerita-cerita tentang benda mati yang bisa mematuhi perintah. Nah, di dalam ruangan ada sebuah sofa.
“Sebuah contoh,” kata Dzun-Nun, “dari benda mati yang mematuhi perintah orang suci adalah, jika aku menyuruh sofa di sana itu, ‘Menari-narilah di sekitar rumah’, dan sofa itu pun mulai bergerak.”
Tak lama setelah Dzun-Nun menyelesaikan kata-katanya, sofa itu mulai bergerak kemudian mengelilingi rumah lalu berbalik ke tempatnya semula. Seorang pemuda yang menyaksikan peristiwa ini tidak dapat menahan tangisnya dan tak lama kemudian menemui ajal. Mereka memandikan mayat si pemuda di atas sofa itu kemudian menguburkannya.
Suatu hari, seorang lelaki mendatangi Dzun-Nun dan berkata, “Aku punya utang, tetapi aku tak punya uang untuk membayarnya.”
Dzun-Nun mengambil sebongkah batu dari tanah dan menyerahkannya kepada orang itu. Si lelaki membawa batu itu ke pasar.
Batu itu berubah menjadi zamrud. Ia menjualnya seharga empat ratus dirham dan membayar utangnya.
Ada seorang pemuda yang sering mencemooh para sufi. Suatu hari, Dzun-Nun mencopot cincin dari tangannya dan menyerahkannya kepada pemuda tadi.
“Bawa cincin ini ke pasar dan gadaikan sebesar satu dinar,” katanya.
Pemuda itu pun membawa cincin tersebut ke pasar, tetapi mereka tidak mau membayar lebih dari satu dirham. Si pemuda kembali dan menyampaikan kabar tersebut.
“Sekarang bawalah ke para pengrajin perhiasan, dan cari tahu berapa taksiran mereka,” kata Dzun-Nun.
Para pengrajin perhiasan menghargai cincin itu seribu dinar.
“Pengetahuanmu tentang para sufi,” kata Dzun-Nun kepada si pemuda saat dia kembali, “sama seperti pengetahuan para pemilik kios di pasar tentang harga cincin ini.”
Si pemuda pun bertobat, dan tidak menyangsikan para sufi lagi.
***
Selama sepuluh tahun Dzun-Nun ingin memakan sikbaj, tetapi keinginan itu tak pernah dipuaskannya. Sekarang adalah malam hari sebelum perayaan dan hatinya berkata, “Bagaimana jika besok engkau memberiku sesuap sikbaj sekadar untuk menyambut perayaan?”
“Wahai hatiku,” jawab Dzun-Nun, “jika itu yang engkau kehendaki, izinkan aku membaca seluruh ayat al-Quran dalam salat sunah dua rakaat nanti malam.”
Hatinya mengizinkan. Keesokan harinya Dzun-Nun mempersiapkan sikbaj dan menaruhnya di hadapan. Ia pun mencuci tangan dan mulai salat.
“Apa yang terjadi?” tanya seseorang.
“Baru saja,” Dzun-Nun menjawab, “hatiku berkata, ‘Akhirnya setelah sepuluh tahun, keinginanku terpenuhi?’ Demi Allah, jawabku, keinginanmu tidak akan terpenuhi.”
Si penutur kisah menyatakan bahwa ketika Dzun-Nun baru saja mengucapkan kata-kata itu, seorang lelaki masuk dan menaruh semangkuk sikbaj di hadapannya.
“Guru,” katanya, “aku tidak datang atas kehendak sendiri. Ada yang mengirimku. Biar kujelaskan. Aku mencari nafkah sebagai kuli angkut, dan aku punya anak. Sudah lama anak-anakku meminta sikbaj, dan aku pun menabung. Tadi malam, aku membuat sikbaj untuk perayaan. Hari ini aku bermimpi melihat wajah Rasulullah yang cerah menghiasi dunia. ‘Jika engkau ingin bertemu denganku di hari kebangkitan nanti, bawalah sikbaj itu kepada Dzun-Nun dan katakan bahwa Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib telah memohon ampun untuk dirinya agar ia dapat berdamai dengan hatinya walau sementara dan memakan sikbaj ini sekadarnya.’”
“Aku menaati,” kata Dzun-Nun sambil menangis.
***
Ketika Dzun Nun terbaring menunggu ajal, sahabat-sahabatnya bertanya, “Apa yang engkau inginkan?”
“Yang kuinginkan,” jawabnya, “adalah bahwa sebelum mati, barang sekejap saja, aku dapat mengenal-Nya.”
Kemudian ia menuturkan syair berikut ini.
Rasa takut melelahkanku, Keinginan menguasaiku, Cinta memerdayaku, Allah membangkitkanku kembali.
Satu hari kemudian, ia kehilangan kesadaran. Pada malam kematiannya, tujuh puluh orang melihat Nabi dalam mimpi. Semua melaporkan bahwa Nabi berkata, “Sahabat Allah akan datang. Aku keluar untuk menyambutnya.”
Ketika Dzun-Nun wafat, orang-orang menyaksikan tulisan berwarna hijau di dahinya: “Orang ini sahabat Allah. Ia wafat dalam kasih Allah. Inilah manusia yang telah ditebas Allah dengan pedang-Nya.”
Ketika mereka mengusung peti matinya ke kuburan, matahari bersinar sangat terik. Burung-burung di udara mendekat dan sambil terus mengepakkan sayap mereka menaungi keranda dari rumah ke makam.
Sepanjang jalan, muazin melantunkan azan. Ketika sampai pada kata-kata syahadat, Dzun-Nun mengangkat satu jari dari balik kain kafan.
“Dia hidup!” teriak orang-orang.
Mereka pun menurunkan keranda. Jarinya menunjuk, tetapi Dzun-Nun telah tiada. Meskipun berupaya sekuat tenaga, mereka tak dapat menurunkan tangannya. Ketika orang-orang Mesir mendengar hal ini, mereka semua merasa malu dan bertobat, menyesali perbuatan-perbuatan mereka terhadap Dzun-Nun. Di atas kuburan Dzun-Nun, mereka melakukan berbagai hal yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata.
Sumber: Tadzkiratul Auliya
loading...
