Anekdot-Anekdot Fudhail
Suatu hari Fudhail memangku anak berumur empat tahun. Tanpa disengaja bibirnya menyentuh pipi anak itu sebagimana yang sering dilakukan seorang ayah kepada anaknya.
“Ayah, apakah engkau mencintaiku?” tanya anaknya.
“Ya.”
“Apakah engkau mencintai Allah?”
“Ya.”
“Berapa banyak hati yang engkau miliki?”
“Satu.”
“Dapatkah Ayah mencintai dua hal dengan satu hati?”
Fudhail langsung menyadari bahwa bukan anak itu yang berbicara, melainkan merupakan petunjuk ilahiah. Takut akan murka Allah, ia mulai memukuli kepala dan bertobat. Merenggut kasih sayangnya dari anak itu, ia menyerahkannya kepada Allah.
Suatu hari, Fudhail sedang berdiri di Arafah. Semua peziarah menangis dan meratap, berserah diri dan memohon ampunan dengan segala kerendahan hati.
“Mahasuci Allah!” seru Fudhail. “Jika manusia sebanyak ini secara serentak menghadap kepada seseorang dan meminta sekeping uang perak kepadanya, apa yang dilakukannya? Apakah orang itu akan mengecewakan manusia-manusia yang banyak ini?”
“Tidak,” datang jawabannnya.
“Nah,” kata Fudhail, “sudah barang tentu Allah Yang Mahabesar lebih mudah memberi kita ampunan daripada orang tadi untuk memberikan sekeping uang perak. Dia adalah Yang Maha Kaya di antara yang kaya, dan karena itu besar harapan bagi kita bahwa Dia akan memberi ampunan kepada kita semua.
Suatu hari, putra Fudhail mengalami susah buang air kecil. Fudhail menghampiri dan mengangkat tangan.
“Ya Allah,” doanya, “demi cintaku kepada-Mu, angkat penyakit ini darinya.”
Belum sempat Fudhail bangkit dari posisinya yang berlutut, anak itu pun sembuh.
Saat berdoa, Fudhail sering mengucapkan, “Ya Allah, ampunilah aku! Karena Engkau Maha Mengetahui atas pertobatanku; dan jangan menghukumku, karena Engkau Mahakuasa atas diriku.” Kemudian ia akan menambahkan, “Ya Allah, Engkau membuatku lapar dan Engkau membuat anak-anakku lapar. Engkau telah membuatku telanjang, dan Engkau membuat anak-anakku telanjang. Engkau tidak memberi lentera bagiku pada malam hari. Semua ini Engkau perbuat terhadap sahabat-sahabat-Mu. Demi keluhuran spiritual apakah Fudhail layak mendapat kehormatan ini dari-Mu?”
Selama tiga puluh tahun, tak satu orang pun pernah melihat Fudhail tersenyum, kecuali satu hari ketika putranya meninggal dunia. Pada saat itu ia tersenyum.
“Guru, apakah sekarang waktu yang tepat untuk tersenyum?” tanya seseorang kepadanya.
“Aku menyadari bahwa Allah menghendaki agar anakku mati,” jawabya. “Aku tersenyum karena kehendak-Nya telah terlaksana.”
Fudhail memiliki dua anak perempuan. Ketika menjelang ajal, ia mengucapkan wasiat terakhirnya kepada sang istri.
“Begitu aku tiada, bawa putri-putri kita ke Gunung Abu Qubais. Di sana, berdoalah dan ucapkan: ‘Ya Allah, Fudhail telah mewasiatkan agar aku mengatakan ini, ‘Saat aku masih hidup, aku melindungi makhluk-makhluk tak berdaya ini sebisa mungkin. Saat Engkau menawanku di dalam kubur, kukembalikan mereka kepada-Mu.’”
Begitu Fudhail telah dikubur, istrinya melakukan apa yang dipesankan. Ia pun pergi ke puncak gunung dan membawa kedua putrinya ke sana. Kemudian ia berdoa sambil menangis dan meratap. Pada saat itu, Pangeran Yaman lewat bersama dua putranya. Melihat wanita-wanita itu menangis dan meratap, sang pangeran bertanya, “Kemalangan apa yang telah menimpa kalian?”
Istri Fudhail pun menjelaskan situasinya.
“Jika kedua putrimu kuambil untuk putra-putraku,” kata pangeran itu, “aku akan memberi mereka sepuluh ribu dinar sebagai maskawin. Apakah engkau akan merasa puas?”
“Ya,” jawab sang ibu.
Segera saja sang pangeran mempersiapkan tandu, permadani dan brokat, kemudian membawa mereka ke negeri Yaman.
Sumber: Tadzkiratul Auliya
“Ayah, apakah engkau mencintaiku?” tanya anaknya.
“Ya.”
“Apakah engkau mencintai Allah?”
“Ya.”
“Berapa banyak hati yang engkau miliki?”
“Satu.”
“Dapatkah Ayah mencintai dua hal dengan satu hati?”
Fudhail langsung menyadari bahwa bukan anak itu yang berbicara, melainkan merupakan petunjuk ilahiah. Takut akan murka Allah, ia mulai memukuli kepala dan bertobat. Merenggut kasih sayangnya dari anak itu, ia menyerahkannya kepada Allah.
***
Suatu hari, Fudhail sedang berdiri di Arafah. Semua peziarah menangis dan meratap, berserah diri dan memohon ampunan dengan segala kerendahan hati.
“Mahasuci Allah!” seru Fudhail. “Jika manusia sebanyak ini secara serentak menghadap kepada seseorang dan meminta sekeping uang perak kepadanya, apa yang dilakukannya? Apakah orang itu akan mengecewakan manusia-manusia yang banyak ini?”
“Tidak,” datang jawabannnya.
“Nah,” kata Fudhail, “sudah barang tentu Allah Yang Mahabesar lebih mudah memberi kita ampunan daripada orang tadi untuk memberikan sekeping uang perak. Dia adalah Yang Maha Kaya di antara yang kaya, dan karena itu besar harapan bagi kita bahwa Dia akan memberi ampunan kepada kita semua.
***
Suatu hari, putra Fudhail mengalami susah buang air kecil. Fudhail menghampiri dan mengangkat tangan.
“Ya Allah,” doanya, “demi cintaku kepada-Mu, angkat penyakit ini darinya.”
Belum sempat Fudhail bangkit dari posisinya yang berlutut, anak itu pun sembuh.
Saat berdoa, Fudhail sering mengucapkan, “Ya Allah, ampunilah aku! Karena Engkau Maha Mengetahui atas pertobatanku; dan jangan menghukumku, karena Engkau Mahakuasa atas diriku.” Kemudian ia akan menambahkan, “Ya Allah, Engkau membuatku lapar dan Engkau membuat anak-anakku lapar. Engkau telah membuatku telanjang, dan Engkau membuat anak-anakku telanjang. Engkau tidak memberi lentera bagiku pada malam hari. Semua ini Engkau perbuat terhadap sahabat-sahabat-Mu. Demi keluhuran spiritual apakah Fudhail layak mendapat kehormatan ini dari-Mu?”
Selama tiga puluh tahun, tak satu orang pun pernah melihat Fudhail tersenyum, kecuali satu hari ketika putranya meninggal dunia. Pada saat itu ia tersenyum.
“Guru, apakah sekarang waktu yang tepat untuk tersenyum?” tanya seseorang kepadanya.
“Aku menyadari bahwa Allah menghendaki agar anakku mati,” jawabya. “Aku tersenyum karena kehendak-Nya telah terlaksana.”
***
Fudhail memiliki dua anak perempuan. Ketika menjelang ajal, ia mengucapkan wasiat terakhirnya kepada sang istri.
“Begitu aku tiada, bawa putri-putri kita ke Gunung Abu Qubais. Di sana, berdoalah dan ucapkan: ‘Ya Allah, Fudhail telah mewasiatkan agar aku mengatakan ini, ‘Saat aku masih hidup, aku melindungi makhluk-makhluk tak berdaya ini sebisa mungkin. Saat Engkau menawanku di dalam kubur, kukembalikan mereka kepada-Mu.’”
Begitu Fudhail telah dikubur, istrinya melakukan apa yang dipesankan. Ia pun pergi ke puncak gunung dan membawa kedua putrinya ke sana. Kemudian ia berdoa sambil menangis dan meratap. Pada saat itu, Pangeran Yaman lewat bersama dua putranya. Melihat wanita-wanita itu menangis dan meratap, sang pangeran bertanya, “Kemalangan apa yang telah menimpa kalian?”
Istri Fudhail pun menjelaskan situasinya.
“Jika kedua putrimu kuambil untuk putra-putraku,” kata pangeran itu, “aku akan memberi mereka sepuluh ribu dinar sebagai maskawin. Apakah engkau akan merasa puas?”
“Ya,” jawab sang ibu.
Segera saja sang pangeran mempersiapkan tandu, permadani dan brokat, kemudian membawa mereka ke negeri Yaman.
Sumber: Tadzkiratul Auliya
loading...