Dzun-Nun al-Misri
Abul-Faiz Thauban bin Ibrahim al-Misri, yang dijuluki Dzun-Nun, lahir di Ekhmim Mesir Hulu seputaran tahun 180 (796). Ia belajar di bawah bimbingan banyak guru, dan melakukan perjalanan melintasi Arabia dan Suriah. Pada 214 (829), ia ditawan atas tuduhan bidah dan dijebloskan ke penjara Baghdad. Tetapi setelah diperiksa, ia dibebaskan atas perintah khalifah dan kembali ke Kairo. la wafat di sana pada 246 (861); batu nisannya masih terpelihara dengan baik. Menurut legenda, ia adalah seorang ahli kimia serta ahli magic, dan mengetahui rahasia hieroglif Mesir. la diduga menulis sejumlah puisi dan risalah pendek, tetapi kebanyakan masih diragukan.
Kisah Pertobatan Dzun-Nun
Aku diberi tahu tempat tinggal seorang pertapa. Aku pun pergi mengunjunginya, dan menemukan dirinya bergantung pada sebatang pohon.
“Wahai tubuh,” kata pertapa itu, “bantulah aku mematuhi Allah, kalua tidak aku akan membiarkanmu terus tergantung seperti ini sampai engkau mati kelaparan.”
Tangisku pun pecah, dan didengar oleh pertapa saleh itu.
“Siapakah di sana,” seru orang itu, “yang telah berbelas kasihan kepada diriku yang tidak mempunyai malu dan banyak berbuat kejahatan ini?”
Aku menghampiri dan mengucapkan salam. “Mengapa engkau berbuat begini?” tanyaku.
“Tubuhku ini telah menghalangiku untuk menaati Allah,” jawabnya. “Tubuhku ini ingin berbaur dengan manusia lain.”
Tadinya aku mengira ia telah menumpahkan darah seorang muslim atau melakukan dosa besar lain semacam itu.
“Tidakkah engkau menyadari,” kata si pertapa kepadaku, “bahwa begitu kau berbaur dengan manusia lain, maka apa saja bisa terjadi?”
“Sungguh engkau pertapa yang sangat luar biasa!” seruku.
“Apakah engkau mau bertemu dengan pertapa yang lebih zuhud daripada diriku?” tanyanya.
“Mau,” jawabku.
“Pergilah ke gunung di sana,” katanya. “Maka engkau akan melihatnya.”
Aku melanjutkan perjalanan, dan melihat seorang pemuda berjongkok di dalam sebuah pertapaan; satu kakinya diamputasi dan dilempar keluar dari sel, dan belatung sedang memangsanya. Aku mendekatinya dan mengucapkan salam, kemudian aku menanyakan apa yang terjadi pada dirinya.
“Suatu hari,” katanya kepadaku, “aku sedang duduk di pertapaan ini ketika seorang wanita kebetulan saja melintas. Hatiku mendambakannya dan tubuhku memerintahkan agar aku mengejarnya. Aku menaruh satu kaki ke luar sel, kemudian aku mendengar suatu suara berkata, ‘Tidakkah engkau malu, setelah mengabdi dan mematuhi Allah selama tiga puluh tahun, dan sekarang kau mematuhi setan dan mengejar perempuan yang tak bermoral?’ Lalu, aku pun memotong kaki yang telah melangkah keluar pertapaan, dan sekarang duduk di sini menunggu apa yang akan terjadi dan apa yang akan mereka lakukan terhadap diriku. Ada urusan apa engkau dengan pendosa sepertiku? Jika engkau ingin menemui hamba Allah yang sesungguhnya, dakilah sampai ke puncak gunung ini.”
Gunung itu terlalu tinggi untuk kudaki sampai ke puncaknya, maka aku pun menanyai si pemuda soal orang ini.
“Benar,” katanya. “Orang itu sudah sangat lama mengabdi kepada Allah di dalam sel itu. Suatu hari seseorang mengunjunginya dan berbantah-bantah dengannya, mengatakan bahwa setiap manusia harus mencari nafkahnya sendiri. Si pertapa kemudian bersumpah tidak akan menyantap apa pun yang melibatkan perolehan harta benda. Selama berhari-hari, ia tidak makan sama sekali. Kemudian, Allah yang Maha Kuasa mengirimkan sekawanan lebah untuk melayang-layang di sekitarnya dan memberinya madu.”
Hal-hal yang telah kulihat dan ucapan yang telah kudengar membuat jantungku serasa diremas-remas. Aku menyadari bahwa siapa pun yang memasrahkan diri kepada Allah, Allah akan memeliharanya, dan penderitaannya tidak akan tersia-siakan. Saat melanjutkan perjalanan, aku melihat seekor burung kecil buta bertengger di sebatang pohon. Ia mengepak-ngepakkan sayapnya turun dari pohon itu.
“Dari mana makhluk tak berdaya ini mendapatkan makanan dan air?” seruku.
Si burung mematuk-matuki tanah dengan paruh, dan dua cawan pun muncul, satu cawan terbuat dari emas dan berisi biji-bijian, satu cawan lagi terbuat dari perak dan dipenuhi air mawar. Si burung makan sampai kenyang, kemudian ia terbang lagi ke pohon dan cawan itu pun menghilang.
Saking terpananya, sejak saat itu Dzun-Nun memasrahkan diri kepada Allah sepenuhnya, dan benar-benar bertobat. la pun melanjutkan perjalanan, dan ketika malam turun, ia tiba di gurun. Di gurun itu, ia melihat sebuah kendi berisi emas dan perhiasan, dan di atas kendi terdapat selembar batu templek yang bertuliskan nama Allah. Kawan-kawannya membagi-bagikan emas dan perhiasan itu di antara mereka sendiri.
“Berikan batu templek yang bertuliskan nama Sahabat-ku itu,” kata Dzun-Nun.
Maka, ia pun mengambil batu tersebut. Ia mengecup batu itu sepanjang siang dan malam, memperoleh kemajuan yang sedemikian pesatnya sehingga pada suatu malam ia bermimpi suatu suara berkata kepadanya, “Yang lain memilih emas dan perhiasan, karena itu sangat berharga. Engkau memilih apa yang lebih mulia daripada semua itu, Nama-Ku. Oleh karena itu, aku membukakan pintu pengetahuan dan kebijaksanaan kepadamu.”
Dzun-Nun pun kembali ke kota. Kisahnya berlanjut.
Suatu hari aku berjalan sampai ke batas sungai. Di tepi air aku melihat sebuah paviliun. Aku pun pergi untuk berwudu, dan begitu selesai mataku tiba-tiba tertuju ke atap paviliun. Aku melihat seorang gadis sangat cantik berdiri di balkonnya. Ingin membuktikan dirinya, aku berkata, “Wahai Dara, siapakah engkau?”
“Dzun-Nun,” jawab gadis itu, “ketika melihatmu di kejauhan, aku menganggapmu orang gila. Begitu engkau mendekat, aku menduga engkau cendekiawan. Ketika engkau lebih dekat lagi, aku menduga engkau seorang mistikus. Sekarang, aku dapat melihat dengan jelas bahwa kau bukan orang gila, bukan cendekiawan, bukan pula mistikus.”
“Mengapa engkau berkata begitu?” desakku.
“Seandainya engkau orang gila,” jawab gadis itu, “engkau tidak akan berwudu. Jika engkau seorang cendekiawan, engkau tidak akan mengangkat pandanganmu ke tempat yang terlarang bagimu. Jika engkau seorang mistikus, matamu hanya akan tertuju kepada Allah semata.”
Setelah mengatakannya, gadis itu menghilang. Saat itulah aku menyadari bahwa ia makhluk gaib, yang dikirim untuk memberiku peringatan. Aku merasa sangat gundah, dan meneruskan pengembaraanku ke arah laut.
Begitu tiba di tepi pantai, aku melihat sekelompok orang berangkat menaiki kapal. Aku ikut menaiki kapal itu. Setelah beberapa hari berlalu, seorang saudagar yang menumpang kapal itu kehilangan perhiasan miliknya. Satu demi satu penumpangnya digeledah. Akhirnya mereka tiba pada kesimpulan bulat bahwa perhiasan itu ada padauk. Mereka mulai menyiksaku dan memperlakukanku dengan sangat hina, sementara aku tetap diam. Pada akhirnya, aku tidak sanggup menanggungnya lagi.
“Wahai Pencipta, Engkau Maha Mengetahui,” seruku.
Seketika itu juga ribuan ikan menyembulkan kepala ke permukaan air dan di tiap-tiap mulutnya terdapat perhiasan.
Dzun-Nun mengambil salah satu perhiasan itu dan menyerahkannnya kepada si saudagar. Semua orang yang menumpang kapal itu bersimpuh dan meminta maaf. Mereka memandangnya dengan begitu mulia. Karena itulah ia dijuluki Dzun-Nun (“Manusia Ikan”).
Sumber: Tadzkiratul Auliya
loading...