Fudhail dan Harun al-Rasyid
Suatu malam, Harun al-Rasyid memanggil Fazal Barmaki, anggota istana favoritnya. “Malam ini, bawa aku menemui seseorang yang bisa menunjukkan kepadaku jati diriku yang sebenarnya,” kata Harun pada Fazal. “Hatiku semakin lelah dengan segala kebesaran dan kebanggaan.”
Fazal membawa Harun ke rumah Sufyan al-Uyainah. Mereka pun mengetuk pintunya.
“Siapa itu?” Sufyan bertanya.
“Pemimpin Kaum Mukmin,” jawab Fazal.
“Mengapa Sultan sampai harus repot-repot?” tanya Sufyan. “Seharusnya aku diberi tahu, sehingga biar aku saja yang menghadap.”
“Bukan orang ini yang kucari,” ujar Harun. “Dia menjilatku seperti yang lainnya.”
Mendengar apa yang terjadi, Sufyan berkata, “Bila demikian, Fudhail bin Iyadh-lah orang yang engkau cari.” Kemudian, ia membacakan ayat ini: Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh?
“Jika aku mencari nasihat-nasihat yang baik, maka ia akan mencukupi,” ujar Harun.
Mereka pun mengetuk rumah Fudhail.
“Siapa itu?” tanya Fudhail.
“Pemimpin Kaum Mukmin,” jawab Fazal.
“Ada urusan apa Sultan denganku, dan apa yang harus kulakukan dengannya?” tanya Fudhail.
“Bukankah sudah menjadi kewajiban untuk mematuhi para pemegang kekuasaan?” sergah Fazal.
“Jangan ganggu aku,” seru Fudhail.
“Haruskah aku masuk dengan daulat atau dengan perintah?” tanya Fazal.
“Tak ada yang namanya daulat,” jawab Fudhail. “Seandainya engkau masuk secara paksa, engkau tahu apa yang engkau lakukan.”
Harun pun masuk, namun Fudhail memadamkan lampu supaya tak ada yang dapat melihat wajahnya. Harun mengulurkan tangan, dan disambut oleh tangan Fudhail.
“Betapa mulus dan lembut telapaknya, semoga saja bisa lolos dari api Neraka!” ujar Fudhail.
Setelah mengatakannya, Fudhail pun bangkit dan mulai berdoa. Harun sangat tergugah dan tak bisa menahan isak tangis.
“Katakan sesuatu padaku,” sang sultan memohon. Fudhail mengucapkan salam, kemudian berbicara.
“Leluhurmu, paman Nabi, pernah meminta kepada Nabi, ‘Jadikanlah aku pemimpin bagi sebagian umat manusia.’ Nabi menjawab, ‘Paman, sesaat tadi aku mengangkatmu menjadi pemimpin dirimu sendiri.’ Dengan jawaban ini maksud Nabi adalah ‘Sesaat mematuhi Allah lebih baik daripada seribu tahun dipatuhi oleh umat manusia.’ Kemudian Nabi menambahkan, ‘Kepemimpinan akan menjadi sumber penyesalan pada hari Kebangkitan nanti.’”
“Teruskan lagi,” Harun memohon.
“Ketika Umar bin Abdul Aziz diangkat sebagai khalifah,” Fudhail mengisahkan, “ia memanggil Salim bin Abdullah, Raja’ bin Hayat, dan Muhammad bin Ka’b. ‘Hatiku gundah karena cobaan ini,’ ia memberi tahu mereka. ‘Apa yang harus kulakukan? Karena aku tahu jabatan tinggi ini adalah cobaan, meskipun orang lain menganggapnya anugerah.’ Salah seorang menanggapi, ‘Bila engkau berharap bisa terhindar dari hukuman Allah, pandanglah setiap muslim lanjut usia seolah mereka ayahmu, dan perlakukan muslim yang lebih muda sebagai saudaramu, anak-anak muslim sebagai anakmu sendiri, perlakukan mereka sebagaimana engkau memperlakukan ayah, saudara, dan anak.’”
“Teruskan lagi,” ulang Harun.
“Negeri-negeri Islam sebagai rumahmu sendiri, dan penduduknya sebagai keluargamu,” kata Fudhail. “Kunjungi ayahmu, hormati saudaramu, dan berlaku baiklah pada putramu. Aku sayangkan,” tambah Fudhail, “bahwa wajah tampanmu itu akan terbakar hangus oleh api Neraka. Takutlah pada Tuhanmu, dan patuhi perintah-Nya. Berhati-hatilah dan bersikaplah bijaksana; karena pada Hari Kebangkitan kelak, Allah akan meminta pertanggungjawabanmu mengenai setiap muslim yang ada, dan Dia akan mencari tahu apakah engkau berlaku adil terhadap semua orang. Jika ada seorang wanita sepuh yang tertidur dalam keadaan lapar, pada Hari itu dia akan menarik pakaianmu dan akan memberi kesaksian yang memberatkan dirimu.”
Harun menangis tersedu-sedu, sampai-sampai kesadarannya mulai hilang.
“Cukup! Bisa-bisa Pemimpin Kaum Mukmin terbunuh karenamu,” tegur Fazal sang wazir.
“Diamlah, Haman,” seru Fudhail.
“Engkau dan makhluk-makhlukmulah yang menghancurkannya, dan kau berkata akulah yang membunuhnya. Apakah ini pembunuhan?”
Mendengar kata-kata itu, tangisan Harun semakin menjadi-jadi.
“Dia menyebutmu Haman,” kata Harun kepada Fazal, “karena dia mempersamakanku dengan Firaun.” Kemudian, Harun berpaling kepada Fudhail, lalu bertanya,
“Apakah engkau punya utang yang belum dilunaskan?”
“Ya,” jawab Fudhail. “Utang kepatuhan kepada Allah. Seandainya Dia memaksaku melunasi utang ini, habislah aku!”
“Maksudku adalah utang kepada manusia, Fudhail,” kata Harun.
“Aku bersyukur kepada Allah,” tangis Fudhail, “yang telah mengaruniakanku sedemikian berlimpahnya, sampai-sampai tidak ada keluhan yang bisa kusampaikan kepada abdi-abdi-Nya.”
Kemudian Harun meletakkan sekantong berisi seribu dinar di hadapannya.
“Ini uang halal, dari warisan ibuku,” katanya.
“Pemimpin Kaum Mukmin,” kata Fudhail, “nasihat-nasihat yang kusampaikan kepadamu ternyata sia-sia belaka. Engkau bahkan telah memulai lagi perbuatan keliru dan mengulangi kezaliman.”
“Kekeliruan apa?” desak Harun.
“Aku menyerukanmu ke jalan keselamatan, sementara kau malah menggiringku ke dalam godaan. Ini benar-benar kekeliruan,” kata Fudhail. “Sudah kukatakan, berikan apa yang kaumiliki itu kepada yang berhak. Engkau malah memberikannya kepada yang tidak pantas menerimanya. Sia-sia saja tadi aku berbicara.”
Setelah mengatakannya, dia menjauh dari hadapan sang khalifah dan melempar emas itu ke luar pintu.
“Ah, sungguh manusia luar biasa!” seru Harun ketika meninggalkan rumah Fudhail. “Sesungguhnya, Fudhail-lah raja bagi manusia. Keangkuhannya sungguh ekstrem, dan dunia ini sangat remeh di matanya.”
Sumber: Tadzkiratul Auliya
Fazal membawa Harun ke rumah Sufyan al-Uyainah. Mereka pun mengetuk pintunya.
“Siapa itu?” Sufyan bertanya.
“Pemimpin Kaum Mukmin,” jawab Fazal.
“Mengapa Sultan sampai harus repot-repot?” tanya Sufyan. “Seharusnya aku diberi tahu, sehingga biar aku saja yang menghadap.”
“Bukan orang ini yang kucari,” ujar Harun. “Dia menjilatku seperti yang lainnya.”
Mendengar apa yang terjadi, Sufyan berkata, “Bila demikian, Fudhail bin Iyadh-lah orang yang engkau cari.” Kemudian, ia membacakan ayat ini: Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh?
“Jika aku mencari nasihat-nasihat yang baik, maka ia akan mencukupi,” ujar Harun.
Mereka pun mengetuk rumah Fudhail.
“Siapa itu?” tanya Fudhail.
“Pemimpin Kaum Mukmin,” jawab Fazal.
“Ada urusan apa Sultan denganku, dan apa yang harus kulakukan dengannya?” tanya Fudhail.
“Bukankah sudah menjadi kewajiban untuk mematuhi para pemegang kekuasaan?” sergah Fazal.
“Jangan ganggu aku,” seru Fudhail.
“Haruskah aku masuk dengan daulat atau dengan perintah?” tanya Fazal.
“Tak ada yang namanya daulat,” jawab Fudhail. “Seandainya engkau masuk secara paksa, engkau tahu apa yang engkau lakukan.”
Harun pun masuk, namun Fudhail memadamkan lampu supaya tak ada yang dapat melihat wajahnya. Harun mengulurkan tangan, dan disambut oleh tangan Fudhail.
“Betapa mulus dan lembut telapaknya, semoga saja bisa lolos dari api Neraka!” ujar Fudhail.
Setelah mengatakannya, Fudhail pun bangkit dan mulai berdoa. Harun sangat tergugah dan tak bisa menahan isak tangis.
“Katakan sesuatu padaku,” sang sultan memohon. Fudhail mengucapkan salam, kemudian berbicara.
“Leluhurmu, paman Nabi, pernah meminta kepada Nabi, ‘Jadikanlah aku pemimpin bagi sebagian umat manusia.’ Nabi menjawab, ‘Paman, sesaat tadi aku mengangkatmu menjadi pemimpin dirimu sendiri.’ Dengan jawaban ini maksud Nabi adalah ‘Sesaat mematuhi Allah lebih baik daripada seribu tahun dipatuhi oleh umat manusia.’ Kemudian Nabi menambahkan, ‘Kepemimpinan akan menjadi sumber penyesalan pada hari Kebangkitan nanti.’”
“Teruskan lagi,” Harun memohon.
“Ketika Umar bin Abdul Aziz diangkat sebagai khalifah,” Fudhail mengisahkan, “ia memanggil Salim bin Abdullah, Raja’ bin Hayat, dan Muhammad bin Ka’b. ‘Hatiku gundah karena cobaan ini,’ ia memberi tahu mereka. ‘Apa yang harus kulakukan? Karena aku tahu jabatan tinggi ini adalah cobaan, meskipun orang lain menganggapnya anugerah.’ Salah seorang menanggapi, ‘Bila engkau berharap bisa terhindar dari hukuman Allah, pandanglah setiap muslim lanjut usia seolah mereka ayahmu, dan perlakukan muslim yang lebih muda sebagai saudaramu, anak-anak muslim sebagai anakmu sendiri, perlakukan mereka sebagaimana engkau memperlakukan ayah, saudara, dan anak.’”
“Teruskan lagi,” ulang Harun.
“Negeri-negeri Islam sebagai rumahmu sendiri, dan penduduknya sebagai keluargamu,” kata Fudhail. “Kunjungi ayahmu, hormati saudaramu, dan berlaku baiklah pada putramu. Aku sayangkan,” tambah Fudhail, “bahwa wajah tampanmu itu akan terbakar hangus oleh api Neraka. Takutlah pada Tuhanmu, dan patuhi perintah-Nya. Berhati-hatilah dan bersikaplah bijaksana; karena pada Hari Kebangkitan kelak, Allah akan meminta pertanggungjawabanmu mengenai setiap muslim yang ada, dan Dia akan mencari tahu apakah engkau berlaku adil terhadap semua orang. Jika ada seorang wanita sepuh yang tertidur dalam keadaan lapar, pada Hari itu dia akan menarik pakaianmu dan akan memberi kesaksian yang memberatkan dirimu.”
Harun menangis tersedu-sedu, sampai-sampai kesadarannya mulai hilang.
“Cukup! Bisa-bisa Pemimpin Kaum Mukmin terbunuh karenamu,” tegur Fazal sang wazir.
“Diamlah, Haman,” seru Fudhail.
“Engkau dan makhluk-makhlukmulah yang menghancurkannya, dan kau berkata akulah yang membunuhnya. Apakah ini pembunuhan?”
Mendengar kata-kata itu, tangisan Harun semakin menjadi-jadi.
“Dia menyebutmu Haman,” kata Harun kepada Fazal, “karena dia mempersamakanku dengan Firaun.” Kemudian, Harun berpaling kepada Fudhail, lalu bertanya,
“Apakah engkau punya utang yang belum dilunaskan?”
“Ya,” jawab Fudhail. “Utang kepatuhan kepada Allah. Seandainya Dia memaksaku melunasi utang ini, habislah aku!”
“Maksudku adalah utang kepada manusia, Fudhail,” kata Harun.
“Aku bersyukur kepada Allah,” tangis Fudhail, “yang telah mengaruniakanku sedemikian berlimpahnya, sampai-sampai tidak ada keluhan yang bisa kusampaikan kepada abdi-abdi-Nya.”
Kemudian Harun meletakkan sekantong berisi seribu dinar di hadapannya.
“Ini uang halal, dari warisan ibuku,” katanya.
“Pemimpin Kaum Mukmin,” kata Fudhail, “nasihat-nasihat yang kusampaikan kepadamu ternyata sia-sia belaka. Engkau bahkan telah memulai lagi perbuatan keliru dan mengulangi kezaliman.”
“Kekeliruan apa?” desak Harun.
“Aku menyerukanmu ke jalan keselamatan, sementara kau malah menggiringku ke dalam godaan. Ini benar-benar kekeliruan,” kata Fudhail. “Sudah kukatakan, berikan apa yang kaumiliki itu kepada yang berhak. Engkau malah memberikannya kepada yang tidak pantas menerimanya. Sia-sia saja tadi aku berbicara.”
Setelah mengatakannya, dia menjauh dari hadapan sang khalifah dan melempar emas itu ke luar pintu.
“Ah, sungguh manusia luar biasa!” seru Harun ketika meninggalkan rumah Fudhail. “Sesungguhnya, Fudhail-lah raja bagi manusia. Keangkuhannya sungguh ekstrem, dan dunia ini sangat remeh di matanya.”
Sumber: Tadzkiratul Auliya
loading...