Ibrahim bin Adham Pergi ke Makkah
Ketika kemasyhuran perbuatannya tersebar luas, Ibrahim pun meninggalkan gua tersebut dan pergi ke Makkah. Di gurun, Ibrahim berjumpa dengan seorang tokoh besar agama yang mengajarinya Nama Allah Yang Teragung, sebelum pergi lagi. Ibrahim menyeru Allah dengan Nama Yang Teragung itu dan sesaat kemudian tampaklah olehnya Khidir as.
“Ibrahim,” kata Khidir, “yang tadi mengajarimu Nama Teragung itu adalah Daud saudaraku.”
Kemudian Khidir dan Ibrahim saling bertukar kata. Khidirlah yang pertama menyelamatkan Ibrahim, dengan izin Allah. Ibrahim mengisahkan kelanjutan perjalanannya menuju Makkah sebagai berikut.
“Ketika tiba di Dhat Irk, aku melihat tujuh puluh orang mengenakan jubah kain perca tergeletak tak bernyawa di sana, darah mengucur dari hidung dan telinga mereka. Saat mengitari mereka, aku menemukan ternyata ada satu orang yang masih hidup.
“’Anak muda,’ seruku, ‘apa yang terjadi di sini?’”
“’Putra Adham,’ jawabnya, ‘beradalah di dekat air dan tempat salat. Jangan jauh-jauh, kalau tidak engkau akan dihukum; dan jangan terlalu dekat, kalau tidak engkau akan celaka. Tidak boleh ada manusia yang bersikap terlalu menantang di depan Sultan. Takutlah kepada para Sahabat yang membantai para peziarah ke tanah suci seakan-akan mereka itu orang-orang kafir Yunani, lalu memerangi mereka. Kami adalah rombongan sufi yang melintasi padang pasir dengan berpasrah kepada Allah dan berjanji tidak mengucapkan sepatah kata pun dalam perjalanan, tidak memikirkan apa pun kecuali Allah, senantiasa membayangkan Allah ketika berjalan maupun diam, dan tidak peduli terhadap segala sesuatu kecuali kepada-Nya. Setelah kami melintasi gurun dan sampai ke tempat di mana para peziarah harus mengenakan jubah putih, Khidir as. datang menghampiri. Kami mengucapkan salam kepadanya dan Khidir membalas salam kami. Kami sangat gembira dan berkata, “Alhamdulillah, sesungguhnya perjalanan kita telah diridai Allah, dan yang mencari telah mendapatkan yang dicari, karena bukankah manusia suci sendiri datang untuk menyambut kita.” Setelah itu, terdengarlah suara yang berseru dari dalam diri kami, “Dasar pendusta dan berpura-pura, demikianlah kata-kata dan janji kalian! Kalian melupakan-Ku, dan menyibukkan dirimu dengan orang lain. Enyah! Aku tidak akan berdamai dengan kalian sebelum nyawa kalian Kucabut sebagai pembalasan dan sebelum darah kalian Kutumpahkan dengan pedang kemurkaan. Semua manusia pemberani yang engkau saksikan terkapar di sini adalah korban dari pembalasan itu. Wahai Ibrahim, berhati-hatilah! Engkau pun memiliki ambisi yang sama. Hentikanlah, atau menyingkirlah jauh-jauh!”
“’Kalau begitu, mengapa mereka membiarkanmu tetap hidup?’ tanyaku, sangat bingung dengan ucapan orang itu.
“’Mereka berkata, “’Teman-temanmu sudah matang, sementara engkau masih mentah. Hiduplah beberapa saat lagi, dan engkau juga akan matang. Begitu itu terjadi, engkau pun akan mengikuti jejak mereka.’” Setelah mengatakannya, ia pun mengembuskan napas penghabisan.”
***
Sudah empat belas tahun Ibrahim melintasi gurun, berdoa dan memasrahkan diri sepanjang perjalanan. Ketika ia semakin dekat ke Makkah, para tetua dari Masjidil Haram mendengar kedatangannya, lalu keluar untuk menemuinya. Ibrahim mendahului rombongannya supaya tidak ada yang dapat mengenali dirinya. Para pelayan yang mendahului tetua-tetua itu melihat Ibrahim berjalan di depan kafilah; tetapi berhubung sebelumnya tidak pernah melihatnya, mereka tidak mengenalinya.
Setelah Ibrahim berada dekat, mereka berseru, “Ibrahim bin Adham hampir tiba. Para tetua Masjidil Haram datang menyambutnya.”
“Apa yang diinginkannya dari bidah itu?” tanya Ibrahim.
Mereka langsung meringkus Ibrahim dan memukulinya.
“Para tetua Makkah keluar untuk menyambutnya, dan kau menyebut dia bidah?” seru mereka.
“Menurutku dia memang bidah,” ulang Ibrahim.
Ketika mereka meninggalkannya, Ibrahim berkata kepada diri sendiri.
“Ha!” serunya. “Kau ingin para tetua keluar untuk menyambutmu. Yah, kau telah diganjar pukulan. Alhamdulillah, kusaksikan sendiri betapa engkau telah memperoleh apa yang engkau inginkan!”
Ibrahim pun memutuskan tinggal di Makkah. Ia dikelilingi oleh beberapa sahabat, dan ia mencari nafkah dengan bekerja membanting tulang sebagai tukang kayu.
Sumber: Tadzkiratul Auliya
loading...