Loading...

Ahmad bin Harb dan Ahmad si Saudagar

DI NISHAPUR, hiduplah dua orang bernama Ahmad. Yang pertama bernama Ahmad bin Harb, yang kedua dikenal sebagai Ahmad si Saudagar.

Ahmad bin Harb adalah seorang yang sedemikian khusyuknya berzikir kepada Allah, sehingga ketika tukang cukur hendak menggunting kumisnya ia terus menggerak-gerakkan bibir.

“Diamlah dulu sementara aku merapikan kumismu,” kata si tukang cukur.

“Jangan pedulikan aku, lakukanlah pekerjaanmu,” jawab Ahmad bin Harb.

Dan setiap kali kumisnya dicukur, bibirnya ikut terluka.

Suatu hari, Ahmad bin Harb menerima sepucuk surat dan sejak lama ia berniat membalasnya tetapi tidak memiliki waktu luang. Kemudian suatu hari, seorang muazin mengumandangkan azan. Tepat saat si muazin sampai pada seruan: “Sekarang waktunya!” Ahmad memanggil salah seorang sahabatnya.

“Jawablah surat sahabatku ini. Katakan, jangan mengirimiku surat lagi karena aku tidak punya waktu untuk membalasnya. Tulislah: ‘Sibukkanlah dirimu dengan Allah. Selamat tinggal!’”

Sementara tentang Ahmad si Saudagar, ia begitu khusyuk dalam kecintaannya terhadap harta dunia, sampai-sampai setelah menyuruh budak perempuannya mempersiapkan makanan dan setelah si budak melaksanakan perintahnya, ia masih terus menghitung-hitung hingga malam tiba, dan ia pun jatuh tertidur. Ketika terbangun keesokan paginya, ia memanggil budak perempuannya tadi.

“Kemarin engkau tidak mempersiapkan makanan untukku.”

“Sudah. Tetapi tuan begitu tenggelam dalam penghitunganmu.”

Untuk kali kedua si budak memasak makanan dan menyajikannya di depan sang majikan, tetapi sekali lagi majikannya tidak sempat mencicipi santapan itu. Untuk kali ketiga si budak mempersiapkan makanan, tetapi tuannya tetap tidak memiliki kesempatan. Si budak masuk dan menemukan tuannya sedang tidur lelap, lalu diusapkannya makanan itu ke bibir sang majikan. Ahmad si Saudagar terbangun.

“Bawakan wadah cuci tangan!” katanya, mengira dirinya sudah makan.

***

Ahmad bin Harb dan Putranya

Ahmad bin Harb mempunyai seorang putra yang masih kecil yang diajarinya untuk memasrahkan diri kepada Allah.

“Setiap kali engkau menginginkan makanan atau apa pun,” kata Ahmad bin Harb berkata kepada putranya, “pergilah ke jendela dan berserulah: ‘Ya Allah, aku butuh roti.’”

Setiap kali putranya pergi ke tempat itu, kedua orangtuanya segera mempersiapkan segala sesuatu yang diinginkannya.

Suatu hari keduanya tidak ada di rumah, dan si anak merasa lapar. Seperti yang biasa dilakukannya, ia pun pergi ke jendela lalu berdoa.

“Ya Allah, aku butuh roti.”

Seketika itu pula roti dikirimkan kepadanya melalui jendela itu. Ayah-ibunya kembali dan menemukannya sedang duduk menyantap roti.

“Dari mana engkau mendapatkannya?” tanya mereka.

“Dari Dia yang memberiku setiap hari,” jawab putra Ahmad.

Kedua orangtuanya pun sadar bahwa putra mereka sudah mantap di jalan ketakwaan ini.

Sumber: Tadzkiratul Auliya
loading...
Loading...

Popular Posts