Loading...

Anekdot-Anekdot Ahmad bin Khazruya

SEORANG PENCURI masuk ke rumah Ahmad bin Khazruya. Ia memeriksa semua sudut tetapi tidak dapat menemukan apa-apa. Ketika dengan putus asa ia hendak meninggalkan tempat itu, Ahmad memanggilnya.


“Anak muda, ambillah ember itu, timbalah air dari sumur itu, kemudian berwudu dan kerjakanlah salat. Jika nanti aku memperoleh sesuatu, aku akan memberikannya kepadamu supaya engkau tidak meninggalkan rumah ini dengan tangan hampa.”

Anak muda itu melakukan apa yang disuruh Ahmad. Begitu siang tiba, seorang yang terhormat membawa seratus dinar dan memberikannya kepada Syekh Ahmad.

“Ambil ini sebagai imbalan atas salat malammu,” kata Ahmad pada si pencuri.

Seketika itu pula tubuh si pencuri bergetar. Ia mulai bercucuran air mata.

“Aku telah memilih jalan yang salah. Baru satu malam berbakti kepada Allah, sudah sedemikian banyaknya karunia yang dilimpahkan-Nya kepadaku.”

Anak muda itu bertobat dan kembali kepada Allah. Ia menolak menerima uang emas itu, kemudian menjadi salah seorang murid Ahmad.

***

Suatu hari, Ahmad mengenakan pakaian compang-camping kemudian mampir di kediaman seorang sufi. Dalam gerak-gerik seorang sufi, ia membaktikan diri sepenuh hati dengan kewajiban-kewajiban spiritual. Tetapi para sufi yang berada di kediaman itu meragukan ketulusan Ahmad.

“Orang itu tidak berasal dari rumah ini,” bisik mereka kepada syekh mereka.

Pada suatu hari Ahmad pergi ke sumur dan embernya terjatuh. Sufi-sufi lain di tempat itu mencacinya. Ahmad segera mendatangi atasan mereka.

“Bacalah al-Fatihah, supaya ember itu naik dari dalam sumur dengan sendirinya,” Ahmad memohon.

“Permintaan macam apa ini?” tanya syekh bingung.

“Jika engkau tidak mau membacanya,” kata Ahmad, “maka berilah aku izin melakukannya.”

Kemudian sang syekh memberi izin dan Ahmad membacakan Fatihah. Timba itu pun timbul ke permukaan air.

Menyaksikan kejadian ini sang syekh melepaskan topinya dan bertanya, “Anak muda, siapakah engkau sebenarnya sehingga gudang gandumku hanya bagaikan dedak dibanding dengan sebutir gandummu?”

Ahmad menjawab, “Sampaikan kepada sahabat-sahabatmu agar mereka memperlakukan musafir dengan lebih baik.”

***

Seorang lelaki mendatangi Ahmad bin Khazruya dan berkata, “Aku sakit dan miskin. Ajari aku suatu cara sehingga aku dapat terlepas dari cobaan-cobaan ini.”

“Tuliskan segala pekerjaan yang ada di secarik kertas,” jawab Ahmad. “Masukkan kertas-kertas itu di kantong, dan bawa kepadaku.”

Lelaki itu menuliskan setiap pekerjaan yang ada di sehelai kertas lalu memasukkannya ke kantong, kemudian menyerahkannya kepada Ahmad. Ahmad merogoh kantong itu dan mengeluarkan secarik kertas. Ternyata kertas itu tertulis, “Perampok.”

“Engkau harus menjadi perampok,” kata Ahmad.

Lelaki itu tertegun. Namun, ia segera meninggalkan tempat itu dan bergabung dengan sekawanan perampok.

“Aku suka dengan pekerjaan ini,” kata orang itu. “Bagaimana cara melakukannya?”

“Ada satu aturan yang harus ditaati dalam pekerjaan seperti ini,” terang perampok-perampok itu. “Apa pun tugas yang kami perintahkan kepadamu, harus engkau laksanakan.”

“Aku akan menaati perintah kalian,” ia meyakinkan para perampok itu.

Ia bergabung bersama mereka selama beberapa hari. Suatu hari, lewatlah sebuah kafilah. Perampok-perampok itu menghadang, dan membawa seorang musafir, seorang kaya raya, ke hadapan anggota baru mereka.

“Sembelih lehernya,” perintah mereka.

Lelaki itu ragu-ragu.

“Kepala perampok telah membunuh banyak orang. Akan lebih baik,” batinnya, “jika dia sendiri yang kubunuh daripada saudagar ini.”

“Jika engkau menghendaki pekerjaan ini, taatilah perintah kami,” kata kepala perampok itu. “Jika tidak, enyah dari sini dan carilah pekerjaan lain.”

“Aku harus mematuhi perintah,” kata orang itu. “Aku akan mematuhi perintah Allah, bukan perintah perampok.”

Lelaki itu menghunuskan pedang, melepaskan si saudagar, dan memenggal kepala pemimpin perampok. Melihat hal ini, bandit-bandit lain lari kocar-kacir. Barang-barangnya tak tersentuh, dan nyawa saudagar itu terselamatkan. Si saudagar memberinya emas dan perak sedemikian banyak sampai-sampai ia dapat hidup dengan bebas.

***

Suatu hari, seorang darwis datang dan Ahmad menerimanya dengan ramah. Ahmad menyalakan tujuh puluh batang lilin.

“Aku tidak senang dengan semua ini,” kata orang itu. “Kerepotan semacam ini tidak ada hubungannya dengan sufisme.”

“Pergilah kalau begitu,” kata Ahmad. “Padamkanlah lilin-lilin yang kunyalakan bukan karena Allah.”

Sepanjang malam sang darwis sibuk menyiramkan air dan menaburkan tanah, tetapi tak satu pun di antara ketujuh puluh lilin itu mampu dipadamkannya.

“Mengapa begitu terkejut?” kata Ahmad kepada darwis itu keesokan paginya. “Ikutilah aku, akan kutunjukkan hal yang benar-benar menakjubkan.”

Mereka pun pergi dan tiba di pintu sebuah gereja. Ketika para diaken Kristen melihat Ahmad dan sahabat-sahabatnya, kepala diaken mengundang mereka masuk. Ia mempersiapkan jamuan dan mempersilakan Ahmad makan.

“Orang-orang yang bermusuhan tidak bersantap bersamasama,” ujar Ahmad.

“Bimbinglah kami memeluk Islam,” kata mereka.

Ahmad membimbing mereka memeluk Islam. Jumlahnya ada tujuh puluh orang. Pada malam harinya, Ahmad bermimpi dan di dalam mimpi itu Allah berkata, “Ahmad, engkau telah menyalakan tujuh puluh lilin untuk-Ku dan karena itu untukmu telah Ku-nyalakan tujuh puluh jiwa dengan api Keimanan.”

Sumber: Tadzkiratul Auliya
loading...
Loading...

Popular Posts