Loading...

Anekdot-Anekdot Daud

KONON, Daud memiliki rumah gedongan dengan banyak kamar. Ia akan menempati satu kamar, sampai kamar itu hancur dimakan usia, dan baru berpindah ke kamar yang lain.

“Mengapa engkau tidak memperbaiki kamar itu?” tanya seseorang kepada Daud.

“Aku telah berjanji kepada Allah untuk tidak akan memperbaiki apa pun di dunia ini,” jawab Daud.

Lambat laun seluruh rumah gedongan itu runtuh, tidak ada yang masih utuh kecuali serambi bertiangnya. Pada malam kematian Daud, serambi itu pun runtuh.

“Atap kamarmu lapuk,” kata seorang tamu kepadanya, “tidak lama lagi pasti runtuh.”

“Sudah dua puluh tahun aku tidak memperhatikan atap kamarku ini,” jawab Daud.

***

“Mengapa engkau tidak menikah?” tanya seseorang kepada Daud.

“Aku tidak mau memperdaya seorang wanita beriman.”

“Mengapa demikian?”

“Seandainya aku melamar seorang wanita, itu berarti aku sanggup mengelola urusannya. Tetapi berhubung aku tidak dapat melakukan kewajiban agama dan dunia pada saat yang sama, bukankah itu artinya aku telah memperdaya dirinya?”

“Yah, setidaknya rapikan janggutmu,” kata mereka.

“Itu menyiratkan aku punya waktu untuk berlalai-lalai,” jawab Daud.

***

Pada suatu malam yang diterangi bulan, Daud naik ke loteng rumahnya, lalu menatap langit. Ia terlena menyaksikan keindahan kerajaan Allah, dan menangis hingga tidak sadarkan diri, lalu terjatuh ke loteng rumah tetangga. Si tetangga yang mengira ada maling di atas atap, datang memburu dengan sebilah pedang. Tetapi begitu melihat Daud yang ada di sana, ia segera memapah Daud agar berdiri.

“Siapakah yang telah mendorongmu ke sana?” tanyanya.

“Entahlah,” jawab Daud. “Aku tidak sadar. Aku sendiri tidak habis pikir.”

***

Suatu hari, orang-orang menyaksikan Daud bergegas hendak melakukan shalat.

“Mengapa tergesa-gesa seperti itu?” tanya mereka.

“Pasukan yang berada di gerbang kota sedang menantikan kedatanganku,” jawab Daud.

“Pasukan apa?” tanya mereka. “Penghuni-penghuni kubur,” jawab Daud.

***

Harun al-Rasyid meminta Abu Yusuf supaya mengantarnya ke rumah Daud. Mereka pun pergi ke rumah Daud tetapi tidak diperkenankan masuk. Abu Yusuf memohon agar ibu Daud berkenan membujuk putranya.

“Terimalah mereka,” bujuk ibu Daud.

“Aku tidak memiliki urusan apa-apa dengan hal-hal duniawi dan para pendosa,” jawab Daud, menolak untuk memenuhinya.

“Demi aku yang telah menyusuimu, kuminta kepadamu, temuilah mereka!” desak ibunya.

“Ya Allah,” ujar Daud. “Engkau telah berkata, ‘Patuhilah ibumu, karena keridaan-Ku adalah keridaannya. Bila tidak demikian, apalah peduliku terhadap mereka?”

Kemudian, ia menemui mereka. Harun dan Abu Yusuf pun duduk. Daud mulai berceramah, dan Harun menangis sejadi-jadinya. Ketika memohon diri, Harun meletakkan satu keping koin emas.

“Uang ini kudapatkan lewat cara halal,” katanya.

“Ambil kembali,” sahut Daud. “Aku tidak membutuhkannya. Aku telah menjual rumah yang kuterima sebagai warisan yang halal dan hidup dengan uang penjualan itu. Aku telah memohon kepada Allah, agar Dia mencabut nyawaku ketika uang itu telah habis, sehingga aku tidak akan membutuhkan pertolongan dari seorang manusia pun. Aku berharap Allah mengabulkan permohonanku itu.”

Kemudian, Harun dan Abu Yusuf kembali ke istana. Abu Yusuf mendatangi orang yang diamanahkan uang yang dimaksud oleh Daud.

“Berapa lagi sisa uang Daud?” tanyanya.

“Dua dirham,” jawab si pemegang uang. “Dia menggunakan satu koin perak sehari.”

Abu Yusuf pun melakukan penghitungan. Beberapa hari kemudian, di dalam masjid di depan semua jamaah ia mengumumkan, “Hari ini Daud menemui ajal. Setelah diselidiki, ucapan Abu Yusuf ternyata benar.

“Bagaimanakah engkau mengetahui perihal kematian Daud?” orang-orang bertanya kepada Abu Yusuf.

“Dari pengeluarannya aku telah menghitung bahwa pada hari ini Daud tidak memiliki uang lagi. Aku tahu bahwa doa Daud pasti akan dikabulkan Allah.”

Sumber: Tadzkiratul Auliya
loading...
Loading...

Popular Posts