Anekdot-Anekdot Ma'ruf al-Karkhi
SUATU HARI Ma’ruf al-Karkhi berjalan bersama murid-muridnya, dan mereka berpapasan dengan serombongan anak muda yang sedang mengarah ke tujuan yang sama. Sepanjang perjalanan sampai sungai Tigris, anak-anak muda itu memperlihatkan kelakuan buruk.
“Guru,” desak sahabat-sahabat Ma’ruf, “mintalah kepada Allah Yang Mahabesar untuk menenggelamkan mereka semua, supaya dunia terbebas dari kehadiran mereka yang busuk.”
“Angkat tanganmu,” Ma’ruf menyuruh mereka. Kemudian, ia berdoa.
“Ya Allah, karena Engkau telah memberi mereka kebahagiaan di dunia ini maka beri pula mereka kebahagiaan di akhirat nanti.”
“Guru, kami tidak mengetahui rahasia yang terkandung dalam doamu itu,” kata sahabat-sahabat Ma’ruf al-Karkhi heran.
“Dia—kepada siapa aku berdoa tadi—mengetahui rahasianya,” jawab Ma'ruf. “Tunggulah sebentar. Sekarang ini juga rahasia tadi akan tersingkap.”
Ketika melihat Syekh Ma’ruf al-Karkhi, pemuda-pemuda tadi segera memecahkan kecapi-kecapi mereka dan menumpahkan anggur yang sedang mereka minum. Dengan tubuh bergetar, mereka tersungkur di depan syekh dan memohon ampun.
“Kalian lihat, kan,” kata Ma’ruf kepada sahabat-sahabatnya.
“Keinginan kalian telah terpenuhi seutuhnya, tanpa menenggelamkan dan tanpa menimbulkan penderitaan.”
Sari as-Saqathi menuturkan kisah sebagai berikut.
Pada suatu hari raya, aku melihat Ma’ruf memungut biji-biji kurma.
“Apa yang sedang engkau lakukan?” tanyaku.
“Aku melihat seorang anak menangis,” kata Ma'ruf. “Aku bertanya, ‘Mengapa engkau menangis?’ Anak itu memberitahuku, ‘Aku yatim-piatu. Tidak memiliki siapa-siapa. Anak-anak lain mempunyai pakaian baru, sedangkan aku tidak. Mereka mempunyai kacang, sedangkan aku tidak?’ Jadi aku mengumpulkan biji-biji ini untuk dijual dan membelikan anak itu kacang, supaya dia bisa berlari-larian dan bermain.”
“Serahkan hal ini kepadaku dan janganlah engkau bersusah payah,” kataku.
Sari melanjutkan, “Aku membawa anak itu dan memberinya pakaian, dan membelikannya kacang, membuatnya bahagia. Seketika itu pula aku melihat cahaya terang menyinari hatiku, dan aku
pun berubah.”
Ma’ruf mempunyai seorang paman yang menjadi gubernur di suatu kota. Suatu hari sang paman lewat di sebuah tanah gersang, melihat Ma’ruf sedang menyantap roti. Di depan Ma’ruf ada seekor anjing. Secara bergantian Ma’ruf menyuapkan secuil roti ke mulutnya sendiri dan ke mulut anjing itu.
“Tidak malukah engkau memakan roti bersama seekor anjing?” seru pamannya.
“Justru karena rasa malulah aku memberi roti kepada yang malang,” jawab Ma’ruf.
Kemudian Ma’ruf mendongak dan memanggil seekor burung yang sedang terbang di angkasa. Si burung menukik, hinggap di tangannya. Sayap-sayapnya menutupi kepala dan mata Ma’ruf.
“Barang siapa malu di hadapan Allah,” kata Ma’ruf, “maka segala sesuatu akan malu di hadapannya.”
Saking bingungnya, sang paman tak bisa berkata-kata.
Suatu saat, wudu Ma’ruf batal. Seketika itu pula ia melakukan tayamum di pasir.
“Lihatlah,” kata orang-orang kepadanya. “Di sana ada sungai Tigris. Mengapa engkau bertayamum?”
“Mungkin saja,” jawab Ma’ruf, “aku sudah tiada sebelum sampai di sana.”
Suatu hari sekelompok pengikut Syiah mendobrak pintu rumah Riza, dan mematahkan tulang rusuk Ma’ruf al-Karkhi, sehingga ia sakit parah.
Sari as-Saqathi berkata, “Sampaikanlah wasiat terakhirmu.”
“Ketika aku mati,” kata Ma’ruf, “lepaskanlah pakaianku dan sedekahkanlah. Aku ingin meninggalkan dunia ini dalam keadaan telanjang seperti ketika aku dilahirkan dari rahim ibuku.”
Ketika Ma’ruf meninggal, sifatnya yang berperikemanusiaan dan rendah sedemikian termasyhur sampai-sampai semua kaum, baik Yahudi, Kristen, maupun Islam mengakuinya sebagai salah seorang di antara mereka.
Pelayannya mengisahkan bahwa Ma’ruf pernah berpesan, “Kaum mana pun yang dapat mengangkat peti matiku nanti, aku adalah salah seorang di antara mereka.”
Orang-orang Kristen tidak dapat mengangkat peti matinya. Begitu pula dengan orang-orang Yahudi. Ketika tiba giliran orang-orang muslim ternyata mereka berhasil. Kemudian mereka mensalatkan jenazah dan menguburkannya di tempat itu juga.
Sari mengisahkan:
Setelah Ma’ruf meninggal dunia, aku bermimpi bertemu dengannya. Dia sedang berdiri di bawah Singgasana dengan mata terpentang, seperti seseorang yang terkesima dan terganggu pikirannya. Terdengar seruan dari Allah kepada malaikat-malaikatnya.
“Siapa ini?”
“Ya Allah, Engkau lebih Tahu,” jawab para malaikat.
“Itu Ma’ruf,” terdengar firman-Nya. “Ia terkesima dan terpesona karena cinta kasih Kami. Hanya dengan memandang Kami sajalah ia dapat sadar kembali. Hanya dengan menemui Kami sajalah ia akan menemukan dirinya kembali.”
Sumber: Tadzkiratul Auliya
“Guru,” desak sahabat-sahabat Ma’ruf, “mintalah kepada Allah Yang Mahabesar untuk menenggelamkan mereka semua, supaya dunia terbebas dari kehadiran mereka yang busuk.”
“Angkat tanganmu,” Ma’ruf menyuruh mereka. Kemudian, ia berdoa.
“Ya Allah, karena Engkau telah memberi mereka kebahagiaan di dunia ini maka beri pula mereka kebahagiaan di akhirat nanti.”
“Guru, kami tidak mengetahui rahasia yang terkandung dalam doamu itu,” kata sahabat-sahabat Ma’ruf al-Karkhi heran.
“Dia—kepada siapa aku berdoa tadi—mengetahui rahasianya,” jawab Ma'ruf. “Tunggulah sebentar. Sekarang ini juga rahasia tadi akan tersingkap.”
Ketika melihat Syekh Ma’ruf al-Karkhi, pemuda-pemuda tadi segera memecahkan kecapi-kecapi mereka dan menumpahkan anggur yang sedang mereka minum. Dengan tubuh bergetar, mereka tersungkur di depan syekh dan memohon ampun.
“Kalian lihat, kan,” kata Ma’ruf kepada sahabat-sahabatnya.
“Keinginan kalian telah terpenuhi seutuhnya, tanpa menenggelamkan dan tanpa menimbulkan penderitaan.”
***
Sari as-Saqathi menuturkan kisah sebagai berikut.
Pada suatu hari raya, aku melihat Ma’ruf memungut biji-biji kurma.
“Apa yang sedang engkau lakukan?” tanyaku.
“Aku melihat seorang anak menangis,” kata Ma'ruf. “Aku bertanya, ‘Mengapa engkau menangis?’ Anak itu memberitahuku, ‘Aku yatim-piatu. Tidak memiliki siapa-siapa. Anak-anak lain mempunyai pakaian baru, sedangkan aku tidak. Mereka mempunyai kacang, sedangkan aku tidak?’ Jadi aku mengumpulkan biji-biji ini untuk dijual dan membelikan anak itu kacang, supaya dia bisa berlari-larian dan bermain.”
“Serahkan hal ini kepadaku dan janganlah engkau bersusah payah,” kataku.
Sari melanjutkan, “Aku membawa anak itu dan memberinya pakaian, dan membelikannya kacang, membuatnya bahagia. Seketika itu pula aku melihat cahaya terang menyinari hatiku, dan aku
pun berubah.”
***
Ma’ruf mempunyai seorang paman yang menjadi gubernur di suatu kota. Suatu hari sang paman lewat di sebuah tanah gersang, melihat Ma’ruf sedang menyantap roti. Di depan Ma’ruf ada seekor anjing. Secara bergantian Ma’ruf menyuapkan secuil roti ke mulutnya sendiri dan ke mulut anjing itu.
“Tidak malukah engkau memakan roti bersama seekor anjing?” seru pamannya.
“Justru karena rasa malulah aku memberi roti kepada yang malang,” jawab Ma’ruf.
Kemudian Ma’ruf mendongak dan memanggil seekor burung yang sedang terbang di angkasa. Si burung menukik, hinggap di tangannya. Sayap-sayapnya menutupi kepala dan mata Ma’ruf.
“Barang siapa malu di hadapan Allah,” kata Ma’ruf, “maka segala sesuatu akan malu di hadapannya.”
Saking bingungnya, sang paman tak bisa berkata-kata.
***
Suatu saat, wudu Ma’ruf batal. Seketika itu pula ia melakukan tayamum di pasir.
“Lihatlah,” kata orang-orang kepadanya. “Di sana ada sungai Tigris. Mengapa engkau bertayamum?”
“Mungkin saja,” jawab Ma’ruf, “aku sudah tiada sebelum sampai di sana.”
***
Suatu hari sekelompok pengikut Syiah mendobrak pintu rumah Riza, dan mematahkan tulang rusuk Ma’ruf al-Karkhi, sehingga ia sakit parah.
Sari as-Saqathi berkata, “Sampaikanlah wasiat terakhirmu.”
“Ketika aku mati,” kata Ma’ruf, “lepaskanlah pakaianku dan sedekahkanlah. Aku ingin meninggalkan dunia ini dalam keadaan telanjang seperti ketika aku dilahirkan dari rahim ibuku.”
Ketika Ma’ruf meninggal, sifatnya yang berperikemanusiaan dan rendah sedemikian termasyhur sampai-sampai semua kaum, baik Yahudi, Kristen, maupun Islam mengakuinya sebagai salah seorang di antara mereka.
Pelayannya mengisahkan bahwa Ma’ruf pernah berpesan, “Kaum mana pun yang dapat mengangkat peti matiku nanti, aku adalah salah seorang di antara mereka.”
Orang-orang Kristen tidak dapat mengangkat peti matinya. Begitu pula dengan orang-orang Yahudi. Ketika tiba giliran orang-orang muslim ternyata mereka berhasil. Kemudian mereka mensalatkan jenazah dan menguburkannya di tempat itu juga.
***
Sari mengisahkan:
Setelah Ma’ruf meninggal dunia, aku bermimpi bertemu dengannya. Dia sedang berdiri di bawah Singgasana dengan mata terpentang, seperti seseorang yang terkesima dan terganggu pikirannya. Terdengar seruan dari Allah kepada malaikat-malaikatnya.
“Siapa ini?”
“Ya Allah, Engkau lebih Tahu,” jawab para malaikat.
“Itu Ma’ruf,” terdengar firman-Nya. “Ia terkesima dan terpesona karena cinta kasih Kami. Hanya dengan memandang Kami sajalah ia dapat sadar kembali. Hanya dengan menemui Kami sajalah ia akan menemukan dirinya kembali.”
Sumber: Tadzkiratul Auliya
loading...
