Anekdot-Anekdot Sufyan ats-Tsauri
SUATU HARI Sufyan bersama sahabatnya lewat di depan rumah seorang terpandang. Sahabatnya terpesona memandang serambi rumah itu. Sufyan menegurnya.
“Seandainya engkau beserta orang-orang sepertimu tidak terpesona dengan istana-istana mereka, mereka tidak akan bermegah-megah seperti ini. Dengan terpesona seperti itu engkau ikut berdosa di dalam sikap bermegah-megah mereka.”
Tetangga Sufyan meninggal dunia. Sufyan pun datang untuk membacakan doa saat penguburannya. Setelah selesai, terdengar olehnya orang-orang berkata, “Almarhum orang baik.”
“Seandainya aku tahu bahwa orang-orang lain menyukai almarhum,” kata Sufyan, “aku tidak ikut serta dalam penguburan ini. Kecuali seseorang itu munafik, orang lain tidak akan menyukainya!”
Suatu hari Sufyan salah mengenakan pakaiannya. Ia kemudian tahu kesalahannya, lalu berniat memperbaiki pakaiannya, tetapi urung.
Ia berkata, “Aku mengenakan pakaian ini karena Allah dan tak ingin mengubahnya karena manusia.”
Suatu hari, seorang pemuda tidak sempat menunaikan ibadah haji, dan ia menghela napas.
“Aku sudah menunaikan ibadah haji sebanyak empat puluh kali,” kata Sufyan. “Semuanya akan kuberikan kepadamu. Asalkan engkau sudi memberikan helaan napas itu kepadaku.”
“Baiklah,” kata si pemuda.
Malam harinya, Sufyan bermimpi mendengar suara yang berkata kepadanya, “Engkau mendapat keuntungan yang sedemikian besar sampai-sampai jika dibagikan kepada semua jamaah di Padang Arafah, setiap orang akan kaya raya.”
Suatu hari, Sufyan sedang menyantap sepotong roti ketika seekor anjing lewat. Ia memberikan roti itu kepada si anjing, sepotong demi sepotong.
“Mengapa engkau tidak memakannya beserta istri dan anakmu?” tanya seseorang kepadanya.
“Jika roti ini kuberikan pada si anjing,” jawab Sufyan, “ia akan menjagaku sepanjang malam sehingga aku dapat beribadah dengan tenang. Jika roti ini kuberikan kepada anak-istriku, mereka akan menghalangiku beribadah kepada Allah.”
Suatu hari, Sufyan melakukan perjalanan ke Makkah dengan diusung tandu. Sepanjang jalan, Sufyan terus-menerus menangis.
“Apakah engkau menangis karena takut akan dosa-dosamu?” tanya seorang sahabatnya. Sufyan mengulurkan tangan dan mencabut beberapa helai bulu.
“Dosa-dosaku memang banyak, tetapi semuanya tidak lebih berarti daripada segenggam bulu ini bagiku. Yang membuatku takut adalah apakah imanku adalah iman yang sesungguhnya atau bukan.”
Kasih sayang Sufyan kepada semua makhluk ciptaan Allah digambarkan dalam kisah berikut ini.
Suatu hari ia pergi ke pasar dan melihat seekor burung dalam sangkar, mengepak-ngepak dan memperdengarkan suara mengibakan. Sufyan membelinya, lalu melepaskannya. Setiap malam burung itu datang ke rumah Sufyan, berjaga sepanjang malam saat Sufyan sedang salat dan sesekali bertengger di tubuhnya.
Ketika Sufyan meninggal dunia dan jenazahnya diusung ke permakaman, si burung berkeras mengikuti prosesi dan memekik sedih seperti para pelayat lain. Ketika jasad Sufyan diturunkan ke dalam tanah, si burung menukik ke permukaan tanah. Kemudian terdengar suatu suara dari dalam kuburan, “Allah Mahabesar telah mengampuni Sufyan karena menunjukkan belas kasih kepada makhluk-makhluk-Nya.” Si burung juga mati menyertai Sufyan.
Sumber: Tadzkiratul Auliya
“Seandainya engkau beserta orang-orang sepertimu tidak terpesona dengan istana-istana mereka, mereka tidak akan bermegah-megah seperti ini. Dengan terpesona seperti itu engkau ikut berdosa di dalam sikap bermegah-megah mereka.”
***
Tetangga Sufyan meninggal dunia. Sufyan pun datang untuk membacakan doa saat penguburannya. Setelah selesai, terdengar olehnya orang-orang berkata, “Almarhum orang baik.”
“Seandainya aku tahu bahwa orang-orang lain menyukai almarhum,” kata Sufyan, “aku tidak ikut serta dalam penguburan ini. Kecuali seseorang itu munafik, orang lain tidak akan menyukainya!”
***
Suatu hari Sufyan salah mengenakan pakaiannya. Ia kemudian tahu kesalahannya, lalu berniat memperbaiki pakaiannya, tetapi urung.
Ia berkata, “Aku mengenakan pakaian ini karena Allah dan tak ingin mengubahnya karena manusia.”
***
Suatu hari, seorang pemuda tidak sempat menunaikan ibadah haji, dan ia menghela napas.
“Aku sudah menunaikan ibadah haji sebanyak empat puluh kali,” kata Sufyan. “Semuanya akan kuberikan kepadamu. Asalkan engkau sudi memberikan helaan napas itu kepadaku.”
“Baiklah,” kata si pemuda.
Malam harinya, Sufyan bermimpi mendengar suara yang berkata kepadanya, “Engkau mendapat keuntungan yang sedemikian besar sampai-sampai jika dibagikan kepada semua jamaah di Padang Arafah, setiap orang akan kaya raya.”
***
Suatu hari, Sufyan sedang menyantap sepotong roti ketika seekor anjing lewat. Ia memberikan roti itu kepada si anjing, sepotong demi sepotong.
“Mengapa engkau tidak memakannya beserta istri dan anakmu?” tanya seseorang kepadanya.
“Jika roti ini kuberikan pada si anjing,” jawab Sufyan, “ia akan menjagaku sepanjang malam sehingga aku dapat beribadah dengan tenang. Jika roti ini kuberikan kepada anak-istriku, mereka akan menghalangiku beribadah kepada Allah.”
***
Suatu hari, Sufyan melakukan perjalanan ke Makkah dengan diusung tandu. Sepanjang jalan, Sufyan terus-menerus menangis.
“Apakah engkau menangis karena takut akan dosa-dosamu?” tanya seorang sahabatnya. Sufyan mengulurkan tangan dan mencabut beberapa helai bulu.
“Dosa-dosaku memang banyak, tetapi semuanya tidak lebih berarti daripada segenggam bulu ini bagiku. Yang membuatku takut adalah apakah imanku adalah iman yang sesungguhnya atau bukan.”
***
Kasih sayang Sufyan kepada semua makhluk ciptaan Allah digambarkan dalam kisah berikut ini.
Suatu hari ia pergi ke pasar dan melihat seekor burung dalam sangkar, mengepak-ngepak dan memperdengarkan suara mengibakan. Sufyan membelinya, lalu melepaskannya. Setiap malam burung itu datang ke rumah Sufyan, berjaga sepanjang malam saat Sufyan sedang salat dan sesekali bertengger di tubuhnya.
Ketika Sufyan meninggal dunia dan jenazahnya diusung ke permakaman, si burung berkeras mengikuti prosesi dan memekik sedih seperti para pelayat lain. Ketika jasad Sufyan diturunkan ke dalam tanah, si burung menukik ke permukaan tanah. Kemudian terdengar suatu suara dari dalam kuburan, “Allah Mahabesar telah mengampuni Sufyan karena menunjukkan belas kasih kepada makhluk-makhluk-Nya.” Si burung juga mati menyertai Sufyan.
Sumber: Tadzkiratul Auliya
loading...