Loading...

Pergumulan Batin Ahmad bin Khazruya

Ahmad bin Khazruya mengisahkan sebagai berikut.

Telah lama aku menindas hawa nafsu. Ketika suatu hari orang-orang berangkat ke medan perang, dan keinginan besar untuk menyertai mereka pun timbul di hatiku. Batinku membisikkan beberapa Hadis yang menjelaskan pahala-pahala akhirat bagi yang berjuang di jalan Allah. Aku takjub.


“Batinku biasanya tidak gampang mematuhi kehendakku,” kataku. “Barangkali ini karena aku senantiasa menyuruhnya berpuasa. Batinku tidak dapat menahan lapar lebih lama lagi dan ingin memuaskan laparnya.” Lalu aku berkata, “Aku tidak berbuka puasa saat melakukan perjalanan.”

“Aku sangat sependapat,” jawab batinku.

“Mungkin batinku berkata demikian karena aku memerintahkannya salat sepanjang malam dan ingin agar aku tidur dan beristirahat pada malam hari.” Lalu aku pun berkata, “Aku akan menyuruhmu terjaga sampai fajar tiba.”

“Aku sangat sependapat,” batinku menjawab.

Aku semakin takjub. Kemudian terpikirlah olehku bahwa mungkin batinku berkata begitu karena ingin bergaul dengan orang ramai, jemu dalam kesepian, dan membutuhkan hiburan. Jadi aku pun berkata, “Ke mana pun aku pergi, aku akan menyendiri dan tidak akan berkumpul bersama orang lain.”

“Aku sangat sependapat,” ulang batinku.

Tidak berdaya melakukan apa-apa lagi, aku memohon kepada Allah dengan segala kerendahan hati, semoga Dia berkenan menunjukkan tipu daya batinku, atau memaksanya mengaku secara terus-terang. Kemudian batinku pun berkata,

“Setiap hari engkau membunuhku ratusan kali, dengan menindas segala keinginanku, tetapi orang lain tidak mengetahui hal ini. Di dalam pertempuran-pertempuran nanti, setidaknya aku akan terbunuh untuk selamanya dan terbebas. Tetapi seluruh dunia akan gempar oleh berita, Ahmad bin Khazruya yang gagah perkasa tewas terbunuh dengan mahkota syuhada di atas kepalanya.”

“Mahabesar Allah,” seruku, “yang menciptakan batin yang munafik semasa hidup, dan tetap menjadi munafik setelah mati. Batinku takkan pernah menjadi muslim sejati, entah di dunia ini atau di akhirat nanti. Tadinya kukira engkau bermaksud mematuhi Allah. Aku tidak menyangka engkau sedang mengencangkan sabukmu.”

Setelah itu, aku menggandakan pergumulan melawan batinku.

Sumber: Tadzkiratul Auliya
loading...
Loading...

Popular Posts