Loading...

Sari dan Orang Istana

SUATU HARI, saat Sari sedang berkhotbah, salah seorang kepercayaan khalifah, Ahmad al-Yazid si Juru Tulis lewat dengan segala kemegahan, diiringi oleh para pelayan dan budaknya.


“Tunggu, aku hendak mendengarkan ceramahnya,” kata Yazid kepada para pengiringnya. “Kita telah mengunjungi berbagai tempat yang seharusnya tak perlu kita datangi. Aku bosan dengan semua itu.”

Ahmad al-Yazid pun masuk, lalu duduk mendengarkan ceramah Sari.

“Di antara kedelapan belas ribu dunia,” Sari berkata, “tak ada yang lebih lemah daripada manusia. Tetapi di antara semua makhluk ciptaan Allah tidak ada yang lebih ingkar kepada Allah daripada manusia. Jika seseorang baik maka ia terlampau baik sampai-sampai malaikat-malaikat iri kepadanya. Jika seseorang jahat maka ia terlampau jahat sehingga setan sendiri malu bersahabat dengannya. Sungguh mengherankan, manusia yang sedemikian lemah itu masih mengingkari Allah yang sedemikian perkasa!”

Ucapan Sari ini bagaikan anak panah yang dibidikkan ke jantung Ahmad. Ahmad menangis sedemikian getirnya hingga ia tak sadarkan diri. Setelah sadar, Ahmad masih menangis dan pulang ke rumahnya. Malam harinya, ia tidak memakan apa pun dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Keesokan harinya, Ahmad pergi mendengarkan ceramah Sari dengan berjalan kaki, hatinya gundah dan pipinya pucat. Ketika acaranya berakhir, ia pun pulang. Pada hari ketiga, ia datang lagi, sendirian dan berjalan kaki. Di penghujung ceramah, ia menghampiri Sari.

“Guru,” katanya, “kata-katamu telah menggetarkan hatiku dan membuatku membenci dunia ini. Aku ingin meninggalkannya dan menjauhkan diri dari pergaulan manusia. Tunjukkanlah kepadaku jalan yang ditempuh para musafir.”

“Jalan mana yang engkau inginkan?” tanya Sari. “Jalan para sufi atau para ahli fikih? Jalan orang-orang kebanyakan atau orang-orang terpilih?”

“Tunjukkanlah kedua jalan itu kepadaku,” pinta Ahmad.

“Berikut ini jalan yang ditempuh orang kebanyakan,” kata Sari. “Dirikanlah salat lima waktu dalam sehari di belakang imam, dan keluarkanlah zakat—jika dalam bentuk uang, keluarkanlah setengah dinar dari setiap dua puluh dinar. Berikut ini jalan yang dilalui orang-orang terpilih: berpalinglah dari urusan dunia ini dan jangan sampai terjerumus ke dalam perangkap-perangkapnya. Jika engkau ditawari, jangan diterima. Begitulah kedua jalan yang ada.”

Ahmad al-Yazid pun keluar dan mengarahkan pandang ke alam liar. Beberapa hari kemudian seorang wanita tua dengan rambut kusut dan bekas cakaran di pipi mendatangi Sari.

“Wahai imam sunah, aku mempunyai seorang putra yang masih muda dan berwajah tampan,” kata wanita itu. “Suatu hari dia datang untuk mendengarkan ceramahmu sambil tertawa-tawa dan dengan langkah mengigal, tetapi kemudian pulang sambil menangis dan meratap-ratap. Sudah beberapa hari ini dia tidak pulang dan aku tidak tahu di mana dia. Hatiku sedih karena berpisah dengannya. Tolonglah aku.”

Keputusasaan wanita itu menggugah rasa iba Sari.

“Jangan bersedih,” kata Sari. “Hanya hal baik yang akan terjadi. Jika dia kembali, aku akan mengabarimu. Dia telah pergi dan berpaling dari dunia ini. Dia bertobat dengan sepenuh hati.”

Setelah beberapa lama, Ahmad muncul kembali pada suatu malam.

“Kabarkanlah ibunya,” Sari menyuruh pelayannya. Kemudian ia mengamati Ahmad. Wajahnya pucat, tubuhnya kurus kering, dan badannya yang jangkung bagaikan pohon cemara itu membungkuk.

“Wahai guru yang murah hati,” kata Ahmad kepada Sari, “karena engkau membimbingku ke dalam kedamaian dan mengeluarkanku dari kegelapan, aku berdoa semoga Allah memberimu kedamaian dan menganugerahimu kebahagiaan di dunia dan di akhirat.”

Mereka sedang berbincang-bincang ketika ibu dan istri Ahmad masuk, membawa anak lelaki yang masih kecil. Ketika sang ibu melihat kondisi Ahmad yang sudah berubah, ia pun menubruk dada Ahmad. Istrinya juga berdiri di satu sisi, meratap; sementara anak lelakinya menangis di sisinya yang lain. Kegemparan pun terjadi, dan Sari ikut meneteskan air mata. Anak lelaki itu memegang kaki ayahnya erat-erat. Akan tetapi sekuat apa pun juga mereka membujuk, Ahmad tidak mau pulang ke rumah.

“Imam Kaum Muslim,” Ahmad memprotes, “mengapa engkau memberi tahu mereka? Mereka akan menjadi penyebab kemunduranku.”

“Ibumu terus-menerus memohon sehingga akhirnya aku berjanji untuk mengabarinya,” kata Sari.

Ahmad bersiap-siap hendak kembali ke gurun.

“Engkau belum lagi mati, tetapi sudah membuatku menjadi janda dan putramu menjadi yatim,” tangis istrinya. “Jika dia menanyakanmu, apa yang harus kulakukan? Tak ada jalan lain. Engkan harus membawa anak ini bersamamu.”

“Aku akan melakukannya,” jawab Ahmad.

Ahmad melucuti pakaian indah yang sedang dikenakan putranya, lalu menggantinya dengan kain wol. Kemudian ia menaruh sekantong uang ke tangan anak itu.

“Sekarang, pergilah sendiri,” katanya kepada anak itu.

“Aku tidak sampai hati membiarkannya,” istrinya menjerit ketika melihat putranya dalam keadaan seperti itu. Si anak ditariknya ke dalam pelukan.

“Aku juga memberimu kuasa,” kata Ahmad. “Jika engkau mau, bebaskanlah aku.”

Ahmad pun kembali ke alam liar. Beberapa tahun berlalu. Kemudian, suatu malam, pada waktu salat Isya, seseorang mendatangi kediaman Sari.

“Ahmad mengutusku,” kata orang itu ketika masuk. “Dia berkata, ‘Urusanku sudah hampir berakhir, tolong aku.’”

Sari pun keluar. Ia menemukan Ahmad terbaring di atas tanah di dalam kubur, sedang menantikan ajalnya. Lidahnya masih bergerak-gerak. Sari mendengar bahwa Ahmad sedang membacakan ayat yang berbunyi: “Untuk hal seperti ini biarlah para pekerja bekerja.” Sari mengangkat kepala Ahmad dari atas tanah, mengusap dan mendekapnya ke dada. Ahmad membuka mata, dan melihat sang syekh.

“Guru, engkau datang tepat waktu,” seru Ahmad. “Urusanku sudah hampir berakhir.”

Kemudian ia pun berhenti bernapas. Sambil menangis, Sari pergi ke kota untuk menyelesaikan urusan-urusan Ahmad. Ia melihat orang berbondong-bondong datang dari kota.

“Kalian hendak ke mana?” tanya Sari.

“Apakah engkau tidak tahu?” jawab mereka. “Kemarin malam terdengar seruan dari langit, ‘Barang siapa ingin mensalatkan jenazah sahabat terpilih Allah, pergilah ke pemakaman Shuniziya!”

Sumber: Tadzkiratul Auliya
loading...
Loading...

Popular Posts