Loading...

Ukhuwah Islamiah

Seorang mahasiswa di Surabaya tak bisa menjelaskan kepada ibunya yang baru datang mengunjunginya dari desa dan bertanya, “Nak, bagaimana mungkin kamu tidak kenal tetangga sebelahmu itu, bahkan saling bersapaan pun tak pernah …."


Di desa ia tahu dan diketahui semua penghuni desa, dididik untuk bergaul dan bersopan santun dengan semuanya, bahkan diharapkan selalu memperhatikan dan tolongmenolong. Namun, di kota ia masuk bilik kecil dan acuh tak acuh terhadap setiap orang di sekitamya. Pagi berangkat kuliah, keluar pintu ia langsung terjun ke tengah lalu lintas yang orang-orangnya tak saling kenal dan sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Kemudian, sepulang kuliah ia masuk kembali ke biliknya yang merupakan dunianya yang tersendiri. Ia tentu saja bukannya tak bergaul, melainkan berada pada lingkaran fungsi hidupnya dalam sistem kehidupan kota. Sahabat-sahabatnya tinggal di Jalan Anu atau Kampung Anu sesama mahasiswa, sesama aktivis organisasi ekstra, atau kawan satu klub tenis.

"Ibu jangan menuntut yang tidak-tidak, beginilah kehidupan di kota," berkata mahasiswa kita ini. “Ibu tahu di desa Orang terlalu mau tahu dan turut campur terhadap hampir semua segi kehidupan kita. Kita kentut pun diurusnya, kita tak punya privacy di desa ...."

Jarak antara sang Ibu dan mahasiswa putranya itu adalah suatu jarak peralihan kebudayaan. Mungkin saja sampai akhir hayatnya sang Ibu tak memperoleh penjelasan yang bisa dipahami. Mungkin karena tingkat pendidikan sang mahasiswa tak kunjung memiliki artikulasi untuk memahamkan ibunya tentang gejala peralihan itu. Sebab, bukan tidak mungkin juga sang putra ini tak kunjung memahami apa sebenarnya yang ia alami dalam gerak peralihan itu. Biasanya seorang anak hanya mengatakan bahwa ibunya itu kuno, cara berpikimya ketinggalan zaman, dan tak bisa memahami kemajuan-kemajuan. Namun, antara mereka biasanya juga akan tetap terpertahankan suatu kedamaian dengan tetap menghidupkan sisa-sisa nilai emosional antara mereka.

Kehidupan sedang bergerak maju, menuju pencapaianpencapaian modern yang mengagungkan dan menggiurkan; tapi salah satu yang kita songsong dengan gerak maju itu ialah proses penguraian kebudayaan. Masyarakat tradisional kita yang teksturnya homogen, perlahan-lahan berubah dengan gundukan-gundukan tanah yang baru, galengan-galengan (garis bingkai) baru, karena “pertanian” masyarakat baru kita menanamkan benih-benih baru, ingin memperoleh buah-buah baru dan karena itu menaburkan juga rabuk-rabuk baru. Apa yang semula mengental, kini mencair. Apa yang semula mengempal, kini mulai mengurai. Apa yang semula berkaitan, kini mulai terenggangkan dan terputus.

Masyarakat agraris dengan pola paguyuban dan kegotongroyongan, kini menggeser diri ke suatu pola hidup yang tanaman utamanya adalah profesionalisme, kemampuan bersaing, otot ekonomi, serta kreativitas untuk menemukan inovasi-inovasi komoditas. Kita bercita-cita membentuk hari depan yang agung dengan mendirikan pilar-pilar industrialisasi. Untuk itu, kita hams cerdas menentukan barang-barang jualan: bikin ramuan ice juice baru, pecel kalengan, minuman sekoteng botol, atau mencari celana pendek Raden Bratasena, dan memugar Borobudur untuk dijual sebagai barang antik.

Maka, memimpikan suatu masyarakat paguyuban buat masa depan barangkali adalah suatu tragedi. Orang harus mampu bersaing. Untuk itu, ia harus mandiri, membina kemampuan dan keterampilan individu, mandiri, memacu diri sendiri, dengan risiko menjadi cenderung individualistis. Nostalgia terhadap alam paguyuban bisa tetap ada dan dicari pola penerapannya: bikin Klub Pelajar Daerah, Amazona Rally Club, CB Bravo Sierra, Keluarga Pencinta Alam, Paguyuban Pencinta Anggrek, Kelompok Istri Pengusaha Muda, Ikatan Istri Wartawan, Klub Jantung Sehat dan jangan lupa bikin Ikatan Remaja Masjid, sebagai artikulasi baru keguyuban Muslimin Muda yang merespons pola-pola masyarakat peralihan itu.

Pola masyarakat tradisional yang agraris-homogen merupakan wadah yang amat menguntungkan untuk terbinanya "Ukhuwah Islamiah" di kalangan kaum Muslim. Maka, tatkala homogenitas itu mengurai-urai, yang diuji ialah apakah kekuatan ukhuwah itu terbentuk terutama oleh bentukan struktur masyarakat ataukah oleh landasan keakidahan dan kejiwaan Islam itu sendiri.

Selama ini anyaman tali ukhuwah itu tetap terlihat pada permukaan yang formal, tetapi watak kebudayaan masyarakat itu sendiri pada umumnya--sebagai kanvas--tampak jelas. Ini terlihat dengan tajam dalam diskusi oleh pengendali sejarah yang berhasil menggerakkan perubahan dan peralihan tersebut. Demikianlah, di kamarmu engkau sembahyang dan diam-diam tetap mencintai saudara-saudaramu sesama Muslim, tetapi di jalanan dan di kantor engkau adalah orang lain yang bekerja dan memberi andil kepada suatu mekanisme kehidupan yang secara makro tidak memajukan Islam.

Mekanisme itu memang tak terelakkan (kita sedang menggelinding di atas roda yang membawa kita ke tujuan yang dicita-citakan Islam), kecuali apabila kita bersungguh-sungguh bersedia memberikan diri kepada suatu proses pengislaman dunia. Ini merupakan impian yang teramat panjang, tapi bisa kita mulai sekarang.

Pengislaman dunia? Tentu ia bukan harus berarti menancapkan tonggak bendera Islam di segenap pelosok bumi. Melainkan lebih dalam daripada itu, bahkan kita akan memilih “yang lebih dalam” itu, meskipun tanpa harus menancapkan bendera.

Akan tetapi, mekanisme yang tak terelakkan itu menjelaskan kepada kita bahwa wajar kalau dalam keadaan terkurung seperti itu kita lantas bersikap amat defensif, cenderung mengoloni diri dalam suatu kubu formal, dan membatasi makna Ukhuwah Islamiah kita juga dalam garis lingkaran kubu tersebut.

Akan tetapi, lihatlah: sudah makin banyak ikhwan kita yang berani melesat ke luar kubu, terjun, dan bertanding melawan kenyataan, tanpa kehilangan Islam-nya, bahkan menguji keislamannya dan menggetarkan kehangatan keislamannya ke sudut-sudut kehidupan yang tidak Islam. Ia membawa obor semangat Ukhuwah Islamiah ke hadapan hidup lingkungan yang “bukan orang kita" ….

Oleh: Cak Nun
loading...

Comments

Loading...

Popular Posts