Skip to main content

Posts

Loading...

Featured

Estetika Ramadan

Ada yang aneh dan agak tidak masuk akal--bagi saya--pada sebagian situasi Ramadan di Yogyakarta. Pada siang hari atau separuh malam, saya bisa berkeliling kota untuk menghirup wangi budaya Ramadan di seantero Yogyakarta. Namun, selewat tengah malam hingga Subuh, tentulah saya berada di tempat tinggal saya. Dan, aroma Ramadan yang bisa saya capai tentulah sejauh lingkungan di kampung saya, atau paling banter suara-suara dari pengeras sejumlah masjid yang radiusnya mencapai rumah kontrakan saya. Yang khas dari Ramadan pertama-tama adalah bunyi sirene, satu nada seruling melengking yang menandai Maghrib tiba. Tanpa melihat siaran televisi, mendengarkan tanda dari radio, atau melihat jam, kita langsung tahu waktu berbuka telah tiba karena suara sirene yang memenuhi kota. Kalau di dusun saya dulu, yakni di wilayah timur Jambangan, kami berbuka puasa begitu suara bedug sudah “dipersonanongratakan" (istilah dalam dunia diplomatik yang mengacu pada penolakan suatu negara ...

Latest Posts

Ukhuwah Islamiah

Dzun-Nun dan Murid yang Saleh

Pengembaraan Dzun-Nun

30 Tahun Dzun-Nun Mengajak Manusia Bertobat

Dzun-Nun Ditawan dan Dibawa ke Baghdad

Anekdot-Anekdot Ahmad bin Khazruya

Pergumulan Batin Ahmad bin Khazruya

Ahmad bin Khazruya

Loading...